IMAGE-1 IMAGE-2 IMAGE-3 IMAGE-4 IMAGE-5
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Endang Setyadi: Ibu yang Luar Biasa

Barangkali, jika Nancy Matthews Elliott menerima saja pernyataan guru anaknya yang mengatakan si anak berotak udang, mungkin hari ini tak kan ada lampu pijar yang menerangi dunia. Memang, dalam sejarah terungkap bahwa pencipta lampu pijar, Thomas Alfa Edison, dicap sebagai anak yang bodoh oleh gurunya.

Saat itu, Nancy-ibunda Edison-sangat marah dan menariknya keluar sekolah. Selanjutnya, Nancy sendiri yang mengajar Edison."Ibuku yang membentukku. Ia begitu setia, memiliki keyakinan pada diriku, dan aku merasa aku memiliki seseorang untuk kuperjuangkan dalam hidup, seseorang yang tidak boleh kukecewakan," sebut Edison dalam sebuah catatan.

Ibu Edison, yang juga seorang guru, kemudian memberikan banyak pelajaran yang ternyata diserap dengan mudah oleh Edison. Ia juga melahap habis beberapa buku ilmiah seperti karya dari R.G. Parker's yang berjudul School of Natural Philosophy dan The Cooper Union. Dari sanalah, ia kemudian gemar melakukan berbagai macam percobaan yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi tokoh dunia dengan seribu lebih inovasi.

Nyaris mirip dengan kisah sang ibu dalam mendorong anaknya agar tetap jadi "orang", Endang Setyati juga mengalami problematika yang tak kalah peliknya-bahkan-mungkin lebih parah. Anaknya-Habibie Afsyah-buah cintanya dengan duda beranak tujuh, Nasori Sugiyanto, sejak lahir mengidap penyakit langka, yang menyerang otaknya hingga lumpuh permanen. "Sejak lahir, fungsi syarafnya terus menurun dan bahkan diperkirakan usianya tidak panjang," kisah Endang tentang anaknya.

Namun, menurut perempuan berjilbab ini, "Anak adalah amanah dari Sang Pencipta, karena itu, apa pun kondisi anak, saya berusaha memberikan yang terbaik."

Mendengar pernyataan itu, sang anak pun menimpali dengan ketulusan, "Terima kasih yang terdalam untuk Mama, yang dengan sabar dan kasih sayang merawat saya yang memiliki keterbatasan. Saya sangat bersyukur dilahirkan melalui rahim seorang Ibu, Endang Setyati."



Ibu Endang, Pak Nasori, dan Habibie

Yang istimewa dari cara Endang mendidik adalah perlakuannya pada Habibie. Meski memiliki keterbatasan fisik-bahkan kini hanya tinggal bisa menggerakkan satu jari-Endang menyekolahkanya di sekolah biasa, bukan sekolah luar biasa. Bahkan, beberapa temannya yang tumbuh normal masih sering main ke rumah Habibie untuk sekadar bercanda atau bermain game. "Habibie itu meski hanya main dengan satu jari, entah bagaimana kalau main game selalu menang dari teman-temannya," ungkap Endang.

"Selain hobi main game, ia juga hobi internet-an sedari SMP. Mungkin, karena keterbatasannya itu, ia awalnya menghabiskan banyak waktu hanya dengan main game dan internet."

Keprihatian Endang akan masa depan Habibie membuatnya berpikir, "Apa ya yang bisa dilakukan Habibie supaya besok dia tidak merepotkan orang lain dan bisa mandiri?"

Akhirnya Endang mulai menemukan titik terang sekitar pertengahan tahun 2006. "Saat itu ada penawaran pelatihaninternet marketing. Saya pikir, itu mungkin tepat buat anak saya karena memang dia kan sudah sejak lama hobinya main internet," terang Endang.

Maka, Endang pun memasukkan Habibie untuk ikut pelatihan internet marketing untuk belajar dari salah satu pakarinternet marketing berbasis amazon.com, Mr Fabian Lim. Sayang, karena berbahasa Inggris-meski dibantu dengan penerjemah-Habibie pada awalnya belum terlalu tertarik dengan program tersebut. "Saya lantas bilang, kalau kamu dewasa nanti, kamu tak bisa mengandalkan orang lain terus. Kamu harus jadi orang yang bisa mama banggakan."

Demi masa depan anak, Endang tak ragu untuk sedikit memaksa Habibie. Justru karena punya kelemahan itulah, ia merasa Habibie harus didorong lebih keras. "Waktu itu, karena pelatihan pertama, hasilnya belum maksimal, karena memang yang diberikan hanya dasar-dasarnya. Saya menyuruh Habibie untuk ikut kelas lanjutannya. Mahal ndak apa-apa, yang penting ada ilmu yang bermanfaat. Sayang, kala itu Habibie sempat menolak," kisah Endang.

"Saya lantas tegaskan pada Habibie, kamu syaraf boleh melemah, tapi semangat tidak boleh lemah. Mama sudah pensiun sementara biaya internet kamu itu besar. Kamu harus ikut pelatihan lanjutan ini, jadi kamu main internet itu nggak sia-sia," ujar Endang.

Akhirnya, setelah dipaksa Endang, Habibie mengikuti Asia Internet Academy untuk memperdalam ilmu internet marketing-nya. Ternyata, feeling Endang tepat. Hobi Habibie akhirnya menghasilkan juga. "Setelah lebih memahami pelatihan dari Mr Lim, Habibie waktu praktik untuk pertama kali ia mendapat kiriman uang 120 dolar AS. Itu senangnya bukan main. Ternyata, apa yang dilakukannya selama ini ada hasilnya juga. Maka, sejak itu dia makin intens main di internet marketing. Akhirnya, di bulan Desember 2008, Habibie sudah bisa menghasilkan uang 5986 dolar AS. Itulah yang membuat kepercayaan dirinya makin tumbuh dan dia makin yakin bisa menghasilkan dari bisnis online itu," ungkap Endang sembari menunjukkan setumpuk print-out email yang menunjukkan penghasilan Habibie.


Ibu Endang dan Habibie, saat mengikuti seminar Bp. Andrie Wongso pada Nov. lalu, "The Power of Harmony"

Dengan hasil yang diperolehnya, Endang terus mendorong agar Habibie makin menekuni bidang tersebut. Ia kemudian mengikutkan Habibie ke berbagai kursus lanjutan. "Salah satunya supaya lebih paham saya ikutkan dia ke kursus dari Pak Suwandi Chow. Ini pelatihan train for trainers." Selanjutnya, the rest is history, selebihnya adalah kisah sukses Habibie yang terus dibimbing oleh ibunya.

Mutiara yang tergolek lemah tertutup pasir di lautan itu kini mampu berkilap berkat sentuhan dan ketegasan seorang ibu terhadap anaknya yang punya kelemahan. Berkat kegigihan Endang menemukan "profesi" yang pas untuk putranya, kini kelemahan itu hanya tinggal menjadi predikat. Kerusakan syaraf yang diderita berkat dorongan Endang, kini berubah jadi semangat menggebu untuk meraih hasil maksimal.

"Puji syukur Allah telah mengabulkan permintaan saya dan memberikan kesempatan pada saya dan Habibie bisa menikmati jerih payah dan perjuangan yang tidak kenal menyerah. Indah akan datang pada saatnya jika Allah menghendaki. Dan, inilah saat-saat indah buat saya dan Habibie, yakni bahwa takdir Allah adalah yang terbaik untuk kami. Harapan saya semoga ibu-ibu termotivasi pada prestasi dan kondisi Habibie dan lebih menyayangi putra-putrinya dan ikhlas berjuang untuk sukses keluarganya." Semoga!


tag:andriewongso

Raman Srinivasan. Kemiskinan Tak Menghalanginya untuk Sekolah


Nama lengkapnya Kalyana Raman Srinivasan, namun kini terkenal dengan nama Kal Raman. Pendiri GlobalScholar ini dikenal sebagai sosok sukses yang berangkat dari ketidakpunyaan.

Kal Raman lahir di desa kecil bernama Mannarakoil, Tirunelveli, Tamil Nadu. Ia terlahir dari keluarga kelas menengah yang berhasil. Namun sejak ayahnya meninggal keuangan keluarga jadi berantakan. Mereka lalu pindah ke rumah sederhana tanpa listrik dan persediaan air yang tak memadai. Saudara-saudaranya sudah menyarankan agar anak pertama, kakak Kal, bekerja saja tak perlu melanjutkan sekolah biar bisa membantu pendapatan keluarga. Namun ibunya menolak. "Anak-anak saya harus mendapatkan pendidikan terbaik sebisa mungkin yang bisa saya berikan. Pendidikan adalah penyelamat kami," kata sang ibu.

Pernyataan itu ibarat pendorong semangat Kal dan saudara-saudaranya untuk belajar sebaik mungkin meski dengan ekonomi seadanya. Karena itu walaupun malam hari mereka tak memiliki cukup cahaya untuk membaca buku, Kal punya cara lain yang lebih murah. Ia pergi ke pinggir jalan. Di bawah lampu jalanan itulah setiap malam ia belajar. "Saya bersyukur karena lampu di jalan itu tak pernah mati," kata Kal.

Kal pun bisa meneruskan sekolah hingga lulus SMA. Bahkan akhirnya bisa lulus kuliah dari Anna University di Chennai jurusan Electrical Engineering and Electronics. Usai kuliah ia bekerja di Tata Consulting Engineers. Ia memilih ditempatkan di Mumbai karena merupakan kota besar.

Pertama kali datang ke Mumbai ia tinggal di stasiun. Dan begitu masuk kantor ia sudah mendapat teguran dari manajernya karena Kal tak mengenakan sepatu. "Saya tak peduli bagaimana kamu berpakaian saat belajar di kampus. Tetapi di sini kamu tak bisa mengenakan sandal. Besok kamu harus pakai sepatu," kata sang manajer.

Kal menjelaskan bahwa besok pagi pun ia belum bisa pakai sepatu. Bukan tidak mau namun tak punya uang. Ia menyebutkan bahwa rencana membeli sepatu sudah ia rancang setelah gaji pertama ia terima. "Tolong jangan keluarkan saya dari sini karena saya bekerja untuk keluarga saya. Kami sangat membutuhkan uang," papar Kal. "Kamu tinggal di mana?" tanya sang manajer. "Di stasiun," sahut Kal.

Akhirnya Kal mendapatkan dispensasi. Bukan boleh memakai sandal di bulan pertamanya bekerja, tetapi ia mendapat gaji di muka. Selain itu sang manajer mencarikan tempat tinggal sementara dan membelikan sepasang sepatu. "Itu sepatu pertama yang bisa saya miliki," kata Kal. Hari berikutnya ia sudah mengirim 1500 rupi untuk ibunya.

Kariernya melesat cepat. Bahkan ia mendapat kesempatan dikirim ke luar negeri yaitu ke Edinburg, Inggris, sebagai tenaga ahli program komputer.Dari sanalah kariernya menanjak. Kini Kal sukses dengan perusahaan yang didirikannya, GlobalScholar, perusahaan pembuat software pendidikan. Secara pribadi ia juga benar-benar sudah mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Selain pendidikan ia juga menganggap sang ibulah sang pahlawan hidupnya.


tag:andriewongso

Purwanto, Anak Desa Peraih 2 Gelar Sarjana Luar Negeri

"Siapa dan di mana keberadaan Anda sekarang ditentukan oleh tindakan atau keputusan Anda di masa lalu." Percaya atau tidak dengan ungkapan tersebut, namun itulah yang dialami seorang bernama Purwanto yang lahir di desa Banjarsari, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak.



Dulu desanya belum dialiri listrik dan jalanannya masih tanah, sehingga setiap kali pergi ke sekolah Purwanto kecil harus menjinjing sepatunya dan mencuci kakinya sebelum naik angkutan pedesaan.

Setelah lulus SD, ia memilih melanjutkan ke SMP, alih-alih Sekolah Teknik (ST). Padahal, teman-teman Purwanto umumnya lebih memilih ST karena lulusannya bisa langsung bekerja. Apakah alasannya? Purwanto kecil terinspirasi cerita sang ayah yang seorang pamong desa.

"Setiap kali ayah pergi bertemu pembesar, beliau pasti cerita tentang pembesar itu. ‘Tadi saya ketemu pembesar lulusan UGM atau Undip,'" kata Purwanto. Inilah yang melecut niat Purwanto kecil untuk mengikuti jejak para pembesar itu.

Upaya menimba ilmu yang lebih tinggi pun harus dilaluinya dengan penuh perjuangan. Tepat jam 5 pagi, Purwanto sudah berangkat sambil memikul kedelai untuk dititipkan ke pasar. Malam hari, ia harus pergi ke sawah untuk mengurus air, padahal teman-temannya mungkin tengah belajar atau sudah tidur. Kegiatan malam hari itu memang harus dilakukannya karena kala itu Waduk Kedungombo belum dibangun, sehingga air yang mengaliri sawah di desanya belum mencukupi.

Selepas SMA, meski lolos seleksi di tiga perguruan tinggi, Purwanto memilih masuk ke Teknik Kimia Undip pada 1980. Saat memasuki semester ke-3, kondisi sawah di desanya habis dimakan wereng. Hal ini menyentakkan Purwanto, sehingga membuatnya berjanji bahwa di semester 7 nanti ia bisa hidup mandiri dan tidak merepotkan orangtuanya lagi.

Janjinya terpenuhi ketika sudah menginjak semester 7. Ia menyambi kerja sebagai guru les. Saat itu, pekerjaan mengajar seperti itulah yang paling menjanjikan bagi mahasiswa karena belum banyak saingan. Bayangkan saja, hasil mengajar selama 2 bulan bisa dibelikan motor!

Selepas kuliah, ia tak menampik tawaran sebagai dosen tetap di almameternya. Padahal kebanyakan temannya lebih memilih bekerja di pabrik karena gajinya besar. Keputusan penting Purwanto kali ini didasarkan pada rasa penasarannya akan kehidupan orang Eropa dan kenapa bangsa Eropa bisa lebih maju.

"Menjadi dosen memang tidak bergaji besar, tapi berpeluang besar untuk dapat beasiswa belajar ke luar negeri," jelas sosok ramah kelahiran 28 Desember 1961 ini.

Ternyata, perhitungan Purwanto tidak meleset. Ia mendapat beasiswa master di Prancis. Program yang diambilnya adalah program spesialis dan DEA (Diploma D'Etudes Approfondies) di bidang teknologi proses. Gelar doktoral pun diperolehnya di universitas yang sama.

Selama belajar di Prancis ini, rasa penasaran akan kemajuan bangsa Eropa terjawab. Ia menyimpulkan, semua orang itu pada dasarnya memiliki kemampuan yang bagus. Yang kemudian menjadikannya kurang bagus adalah tipisnya rasa percaya diri dan sifat malas.


Saat diwawancarai secara eksklusif oleh majalah LuarBiasa (hasilnya ada di edisi Juli 2011)

Tercapainya cita-cita kuliah di luar negeri tak lantas mengakhiri perjuangan Prof. Dr. Ir. Purwanto, Dipl.EP, DEA ini. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian dan peran besar pada lingkungan hidup. Ia berpendapat sebaiknya kepentingan ekonomi dan lingkungan tidak dipertentangkan. Fokus kita bersama harusnya mengarah pada isu-isu seperti sustainability, atau keberlanjutan. Ini berarti pembangunan ekonomi seharusnya diimbangi dengan manfaat bagi lingkungan sekaligus manfaat sosial.

Kisah perjuangan panjang Prof. Dr. Ir. Purwanto ini seolah menegaskan bahwa suatu cita-cita setinggi apa pun bisa diraih dengan tindakan dan keputusan yang tepat di hari ini. Kondisi apa pun yang kita jalani, malang maupun beruntung, tak seharusnya menghalangi langkah maju kita menuju masa depan yang lebih baik.


tag:andriewongso

Tukul Arwana


"Saya ini seperti pisau yang jelek tapi diasah terus sehingga bisa jadi tajam,"sebut sesosok pria yang kini enam hari sekali menjumpai pemirsa di stasiun Trans7 melalui program Empat Mata. Mudah ditebak, sosok itu adalah Tukul Arwana. Banyolan yang khas, tepuk tangan ala monyet, bahasa inggris yang kacau, kepolosan dan penampilan konyol yang menjadi trade mark-nya,mampu mengantarkan pria bernama asli Tukul Riyanto ini mencapai puncak keemasannya.

Tukul kini boleh jadi telah menjadi semacam ikon atau simbol orang desa yang mampu 'menaklukkan' kota. Pengakuannya sebagai orang kelahiran desa, dengan tingkah laku yang kampungan, slapstik, seakan menjadi simbolisasi kesuksesan yang benar-benar dimulai dari bawah. Maka, tak heran, ia dianggap mampu menjadi representasi kebanyakan orang yang ingin sukses. Inilah yang membuat banyak orang mau antri untuk datang ke acaranya, selain tentu untuk menikmati banyolan-banyolannya.

Perjuangan kelahiran Semarang 16 Oktober 1963 ini memang sangat panjang dan berliku. Untuk mendapatkan kesuksesan seperti saat ini, Tukul harus berjuang dari panggung ke panggung. Menurut pria yang sudah suka melawak di panggung 17 Agustusan sejak kecil ini, proses adalah bagian terpenting dalam hidupnya. "Saya sudah kenyang diremehkan, dicaci, dan dicibir. Saya jalan dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu panggung ke panggung yang lain. Dan inilah yang sekarang saya terima," kata bapak satu anak yang sering menggambarkan dirinya sebagai hasil dari kristalisasi keringat itu.

Menurut mantan sopir omprengan, kru shooting video, sopir pribadi, dan penyiar radio ini, kunci sukses yang utama pada dirinya adalah menikmati kelemahan dalam diri, dan mengubahnya menjadi berkah. "Makanya saya nikmati saja diolok-olok, dijelek-jelekkan, wong malah itu yang menghidupi saya sekarang." Selain itu, Tukul juga menyebut sejumlah nama, selain istrinya, yang turut memberi andil pada suksesnya. Beberapa di antaranya yaitu Joko Dewo dan Tony Rastafara yang pertama kali mengajaknya melawak ke Jakarta. Ia juga menyebut Radio Humor SK dan kelompok lawak Srimulat sebagai prosesnya memperkaya materi lawakan. "Saya bisa mencapai ini semua berkat bantuan banyak orang juga," ujar pria yang kini sering mengundang beberapa orang yang dianggap berjasa pada karirnya, untuk ikut tampil di Empat Mata.

Kini, boleh jadi Tukul telah jadi pelawak paling mahal di Indonesia. Konon, tarifnya sekali manggung mencapai Rp30 juta. Padahal, untuk acara Empat Mata, ia sudah mengantongi kontrak hingga 260 episode. Jika ditotal, plus honor jadi bintang iklan beberapa produk, pendapatannya per tahun miliaran rupiah. Sebuah motor Harley Davidson kini juga menjadi simbol kesuksesan yang sudah diraihnya. Rumahnya pun ada beberapa, sebagian dikontrakkan untuk menambah pundi-pundi simpanan masa tuanya. Bersama mantan majikannya, ia juga berencana untuk membuka restoran.

Namun, mendapat kelimpahan rejeki demikian banyak, Tukul tak melupakan asalnya. Karena itu, demi membantu rekan-rekan sesama pelawak yang belum sukses, ia membelikan beberapa motor untuk dijadikan sarana ojek bagi rekannya. Selain itu, ia menyediakan satu rumah khusus untuk dijadikan tumpangan rekannya selama di Jakarta. Rumah yang dinamai Posko Ojo Lali itu juga dijadikan ajang tukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan. Selain itu, saat ini ia juga ingin merealisasikan sebuah program acara untuk mengakomodasi teman-teman pelawak yang belum berhasil. "Banyak pelawak yang potensial, namun belum terangkat. Saya yang sedang di puncak ingin mereka juga bisa berhasil," harap Tukul.

Perjuangan Tukul dari nol adalah sebuah gambaran ketekunan dan keuletan yang perlu kita contoh. Keyakinannya yang kuat untuk menjadi pelawak terkenal, ditambah kemauannya belajar banyak hal, telah menjadikannya sebagai ikon orang desa yang bisa menaklukkan kota. Perhatiannya kepada sesama rekan pelawak yang belum sukses juga patut diteladani. Dengan begitu, apapun bentuk kesuksesan yang kita raih, bisa lebih bermakna bagi sesama.

tag:andriewongso

Bob Sadino


Sosok berambut putih, bercelana pendek, dan kadang mengisap rokok dari cangklongnya ini begitu mudah dikenali. Gaya bicaranya blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Ia adalah Bob Sadino, pengusaha sukses yang terkenal dengan jaringan usaha Kemfood dan Kemchick-nya. Beberapa kali wajahnya ikut tampil di beberapa sinetron hingga ke layar lebar, meski kadang hanya tampil sebagai figuran.

Penampilannya yang serba cuek itu ternyata sejalan dengan pola pikirnya yang apa adanya. Sebab, menurutnya, apa yang diraihnya saat ini adalah berkat pola pikir yang apa adanya itu. Ia menyebut bahwa kesuksesannya didapat tanpa rencana, semua mengalir begitu saja. Yang penting, adalah action dan berusaha total, dalam menggeluti apa saja.

Totalitas Bob memang patut diacungi jempol, apalagi mengingat lika-liku jalan hidup yang telah ditempuhnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933 yang hanya lulusan SMA ini pernah mengenyam profesi dari sopir taksi hingga kuli bangunan untuk sekadar bertahan hidup.

Saat masa sulitnya, ia pernah hampir depresi. Tapi, ketika itu seorang temannya mengajaknya memelihara ayam. Dari sanalah ia kemudian terinspirasi, bahwa kalau ayam saja bisa memperjuangkan hidup, bisa mencapai target berat badan, dan bertelur, tentunya manusia juga bisa. Itulah yang kemudian mengawali langkahnya untuk berwirausaha. Ia pun kemudian memutuskan untuk makin menekuni usaha ternak ayam.

Pada awalnya, ia menjual telur beberapa kilogram per hari bersama istrinya. Mereka menjual telur itu awalnya dari pintu ke pintu. Dan, dengan ketekunan dan kemampuannya menjaga hubungan baik, telurnya makin laris. Dari sanalah kemudian usahanya terus bergulir. Dari hanya menjual telur, ia lantas menjual aneka bahan makanan. Itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal supermarket Kemchick miliknya. Ia kemudian juga merambah agribisnis khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun yang banyak berisi sayur mayur untuk dijual pada orang asing seperti orang Jepang dan Eropa. Hubungan baik dengan orang-orang asing inilah yang kemudian makin membesarkan usahanya hingga ia akhirnya juga memiliki usaha daging olahan Kemfoods.

Dalam menjalankan setiap usahanya, Bob selalu menyebut dirinya tak punya kunci sukses. Sebab, ia percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan, peras keringat, dan bahkan jungkir balik. Menurutnya, uang adalah prioritas nomor sekian, yang penting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan selalu bisa menciptakan kesempatan dan berani mengambil peluang.

Bob menyebut, kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak berpikir membuat rencana sehingga tidak segera melangkah. Ia mengatakan bahwa ketika orang hanya membuat rencana, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain, muncullah sifat arogan. Padahal, intinya sebenarnya sederhana saja, lakukan dan selalu dengarkan saran dan keluhan pelanggan. Bob membuktikan sendiri, ia yang hanya bermodal nekad, tapi berlandaskan niat dan keyakinan, serta kerja keras pantang menyerah, tanpa teori sukses ia pun bisa jadi seperti sekarang.

Sukses itu bukan teori. Namun didapat dari perjuangan dan kerja keras, serta dilandasi keyakinan kuat untuk mewujudkan cita-cita. Bob Sadino adalah contoh nyata bahwa setiap orang bisa sukses asal mau membayar ”harga” dengan perjuangan tanpa henti.

tag:andriewongso

Iwan Fals


Bicara tentang sosok Iwan Fals, kita tidak akan bisa melupakan kaum marjinal di negeri ini. Sebab, berbagai judul lagu yang membesarkan nama Iwan Fals seolah tak lepas dari masalah kepedulian sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, dan berbagai protes sosial. Semisal lagu Oemar Bakri, yang menggambarkan pahit getir nasib guru, hingga lagu Bento yang merupakan sindiran bagi pejabat negeri.

Pria bernama asli Virgiawan Listanto ini memang dekat dengan kaum miskin kota, terutama pengamen jalanan. Sebab, meski terlahir dari keluarga berkecukupan, kepeduliannya justru membawa kelahiran Jakarta 3 September 1961 ini banyak bergaul dengan pemusik jalanan. Sejak kecil, ia memang terkenal sudah berjiwa sosial tinggi. Tak jarang, ia memberikan pakaian dan sepatu baru yang mahal kepada teman yang benar-benar membutuhkan.

Kepedulian itu juga yang membuatnya tak jengah untuk ikut menjadi pengamen jalanan, bersama teman-temannya sewaktu SMP di Bandung. Kecintaannya pada gitar kemudian membuat ia bertekad untuk menekuni musik sebagai jalan hidupnya. Iwan pun kemudian mencoba mengarang lagu sendiri dengan candaan, guyonan, dan kritikan dengan menggubah beberapa lagu orang lain. Rupanya, ini justru disenangi pendengarnya.

Kemudian, Iwan yang makin getol bermusik, dibantu rekannya Engkos, manajer yang berprofesi sebagai tukang bengkel sepeda motor, mulai menyanyi di berbagai acara hajatan, kawinan,atau sunatan. Menginjak SMA, lagunya sempat dilirik seorang produser dari Jakarta. Maka, dengan bekal menjual motor miliknya, ia bersama beberapa teman pergi rekaman ke Jakarta. Sayang, album perdananya kurang sukses.

Namun, tekadnya sudah bulat. Maka, untuk mencari modal agar bisa rekaman lagi, ia pun kembali mengamen dan ikut berbagai festival. Sejak itu, suami dari Rosanna ini sempat menelurkan 4 album. Lagi-lagi semuanya kurang diterima pasar luas. Tetapi, Iwan yang sudah punya tekad kuat, merasa harus terus berjuang. Ia memutuskan, jika sudah menekuni satu bidang, harus terjun total.

Buah keyakinan itu rupanya terbukti. Ia mendapat kesempatan rekaman kembali. Kali ini di sebuah label besar, yakni Musica Studio. Salah satu albumnya, yang berjudul Mata Dewa meledak di pasaran. Dengan lagu berlirik khas yang diangkat dari kepedulian dan keprihatinan terhadap masalah sosial di sekitarnya, nama Iwan melambung.

Tapi, Iwan tetap membumi. Sejak namanya mulai dikenal luas, ia beberapa kali tetap manggung di pentas hajatan kawinan dan sunatan. Namun, justru semangat kedekatannya dengan kaum miskin dan tersisih itulah yang makin mengangkat namanya. Beberapa tahun kemudian, ia lebih banyak berkolaborasi dengan musisi lain dengan tetap mengangkat lagu-lagu bertema kritik sosial.

Belakangan, Iwan kembali mengeluarkan beberapa album yang kali ini banyak bertemakan cinta. Sebab, menurutnya, dengan cinta, dunia ini akan semakin sejuk dan damai. Berbagai pandangan, kepedulian, dan kedekatan dengan kaum marjinal itulah yang membuat Iwan sempat dinobatkan sebagai Pahlawan Besar Asia oleh Majalah Time Asia.

Kini, dibantu ibunya, Lies Haryoso, ia mendirikan yayasan sosial yang menampung anak-anak tidak mampu dan menyantuni orang-orang jompo. Yayasan sosial yang dinamai Hairun Nissa itu masih eksis dan terus memberikan santunan kepada orang-orang tidak mampu hingga sekarang. Saat ini, tercatat sudah lebih dari 200 anak dalam panti yang diasuhnya. Kemudian, lebih dari 90 anak non panti juga dibimbingnya. Selain itu, sekitar 300-an lebih orang tua jompo juga diperhatikan di yayasannya.

Buah keyakinan akan menjadi kenyataan jika terus ditekuni tanpa putus asa dan sikap pantang menyerah. Seperti yang ditunjukkan Iwan Fals yang beberapa album perdananya kurang laku di pasaran. Ia tetap berjuang penuh semangat, sembari menunjukkan kepedulian kepada sesama Hasilnya, suksesnya kini tak hanya berarti baginya, namun juga sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

tag:andriewongso

Chairul Tanjung


Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan," Saya bercita-cita jadi orang besar." Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.

Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai "The Rising Star". Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai "The Rising Star". Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang bisa diteladani kita semua.

Tag:andriewongso

Mooryati Soedibyo


Bicara soal kecantikan internasional, ingatan kita pasti akan melayang ke pagelaran Miss Universe. Sebuah kontes kecantikan, yang konon pesertanya adalah yang paling cantik dan cerdas di negerinya - dengan konsepnya, brain, beauty, behavior. Di Indonesia sendiri, ajang ini identik dengan sebuah produk kecantikan Mustika Ratu.

Produk kecantikan tersebut, konon adalah warisan leluhur keraton - asli - yang diturunkan dari nenek moyang kepada para penerusnya. Dan, berkat kepiawaian sosok di balik merek tersebut, produk kecantikan alami ini berhasil mendunia. Bahkan, produk tradisional yang awalnya dipandang sebelah mata, kini justru mendapat tempat utama, sebagai produk alami yang bebas bahan berbahaya.

Adalah Mooryati Soedibyo, tokoh wanita pengusaha yang berada di balik sukses produk Mustika Ratu. Ia berhasil mengangkat kembali warisan tradisional dari lingkungan kerajaan Jawa yang hampir dilupakan orang. Dengan keuletannya, Mooryati berhasil membuat jejamuan dan aneka ramuan khas yang diajarkan neneknya - yang seorang ningrat keraton Solo - menjadi produk kecantikan berkelas.

Tak heran, jika kemudian sejumlah penghargaan berkelas internasional ia terima. Puncaknya, pada tahun 2003 silam, Mooryati mendapat kehormatan terpilih sebagai satu-satunya perempuan yang menjadi finalis "Best of the Best Entrepreneur of the Year 2003 Ernst &Young International", sebuah kompetisi para pengusaha dunia yang diadakan di Monte Carlo, Monaco. Tentu tak hanya itu. Sebelumnya, sederet penghargaan lain, baik lokal maupun internasional, juga banyak disandangnya.

Itu semua adalah buah kerja keras dari perempuan kelahiran Surakarta 5 Januari 1928 - yang masih nampak segar di usianya yang hampir menginjak angka 80 tahun - ini. Dengan sepak terjangnya yang tak kenal lelah dalam mengenalkan aneka produk ramuan tradisionalnya, ia seolah sudah bisa dianggap sebagai "pahlawan" pengembang produk asli Indonesia.

Mooryati mengawali usahanya itu sebenarnya bisa dikatakan hanya karena hobi belaka. Sebab, setelah tahun 1956 menikah dan mengikuti suami bertugas ke Sumatera Utara, ia merasa harus mencari kesibukan di tanah rantau. Maka, ia pun kemudian membuat lulur dan jamu yang dibagikan secara gratis kepada para istri sejawat suaminya. Beberapa jamu buatannya kala itu jamu Komajaya, Komaratih, Lulur, Mangir, Parem Lengkap, dibuat untuk membantu ibu-ibu yang berniat menikahkan anak.

Lama-kelamaan, produknya banyak dipesan. Mooryati pun kewalahan. Hingga akhirnya ia memutuskan menjual produk itu, untuk menutupi biaya bahan pembuatan ramuan. Maka, mulai tahun 1973, ia konsentrasi penuh membuat jamu dibantu dua orang teman, dengan modal usaha awal Rp 25.000. Ia memulainya dari industri rumahan, yakni dari garasi rumah. Tak lama, tahun 1975 Mooryati Soedibyo resmi mendirikan PT Mustika Ratu untuk memayungi usaha pembuatan jamunya.

Mustika Ratu awalnya memproduksi lima macam jamu saja. Yaitu Perawatan Wanita, Perawatan Remaja Puteri, Sedet Saliro (pelangsing tubuh), Sepetan Sari (keputihan), Kesepuhan (Menopause), ditambah beberapa macam kosmetik tradisional leluhur, seperti Mangir, Bedak Dingin, dan Air Mawar. Pada tahun 1978 produk-produk Mustika Ratu mulai didistribusikan ke toko-toko, melalui salon-salon kecantikan yang meminta menjadi agen. Dan, memasuki awal tahun 1980-an Mustika Ratu mulai ekspansi mengembangkan jenis-jenis kosmetik tradisional. Masyarakat mulai akrab mengenal dan menggunakan produk-produk kecantikan tradisional keluaran Mustika Ratu, yang gencar dipopulerkan melalui artikel dan konsultasi kecantikan di majalah, serta melalui kegiatan periklanan di media cetak dan elektronik. Selanjutnya, adalah kisah sejarah manis buah perjuangannya. Bahkan, produknya kini sudah merambah sampai ke Malaysia, Singapura, Philipina, Taiwan, Jepang, Timur Tengah, Rusia, Belanda, Mesir, Cina, Australia, Inggris, dan Eropa Timur.

Kini, selain jadi pengusaha, Mooryati juga aktif dalam kegiatan berorganisasi. Terakhir, ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Jakarta. Dan, melalui Yayasan Puteri Indonesia, ia pun terus mengenalkan kecantikan asli Indonesia, sembari menunjukkan kepedulian sosial melalui program-program kunjungan ke berbagai daerah di Indonesia.

Sebuah upaya melestarikan budaya bangsa, jika disertai dengan kesungguhan, akan membawa kebaikan. Demikian yang ditunjukkan dari profil Mooryati Soedibyo. Ia mampu membuktikan, bahwa produk Indonesia, tak kalah dengan produk kecantikan dari negara lain. Bahkan, ia pun mampu ikut mengharumkan nama Indonesia di berbagai forum internasional. Dari hal ini, kita dapat mempelajari, bahwa kecintaan dan kebanggaan pada produk negeri, bisa membawa kita pada era kebangkitan bangsa, demi kebaikan bersama.

tag:andriewongso

Dorce Gamalama


Tak banyak orang yang mengenal nama Dedi Yuliardi Ashadi. Yah, memang, nama itu sudah lama ditinggalkan dan berganti menjadi Dorce Gamalama Halimatussadiyah. Presenter serbabisa itu memang dulunya terlahir sebagai laki-laki, dari pasangan Achmad dan Dalifah. Namun, sejak usia satu tahun, ia yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya diasuh oleh neneknya, Siti Darama, mempunyai kecenderungan berperan sebagaiperempuan. Itulah yang kemudian membuatnya nekad mengoperasi kelamin menjadi perempuan.

Sebuah kontroversi yang cukup menghebohkan saat itu. Namun, tekadnya yang bulat, membuat ia mampu melewati semua tantangan dan cibiran orang ketika itu. Bakatnya menyanyi sejak kecil pun terus diasahnya. Tak hanya itu, kemampuannya berakting dan menjadi MC dan presenter membuatnya terus eksis.

Kelahiran 21 Juli 1963 ini kemudian harus mengalami lika liku perjalanan karir yang panjang. Namanya terangkat saat ia banyak diekspos oleh TVRI, satu-satunya televisi Indonesia kala itu. Dari sanalah, meski masih terus menuai kontroversi, pelan-pelan namanya dikenal sebagai entertainer serbabisa. Ia mencoba menjawab berbagai cibiran tentang statusnya dengan berkarya maksimal.

Dengan kemampuannya menghibur melalui berbagai hal, tarian, nyanyian, komedi, Dorce pun lantas mulai laris dikontrak ke berbagai tempat. Dari panggung ke panggung dijalaninya dengan senang hati. Sebab, akhirnya, ia bisa membuktikan bahwa ia bisa dilihat orang dari kemampuannya, bukan dari kontroversi yang ditimbulkannya. Ia pun kemudian sempat membintangi beberapa film, antara lain berjudul Dorce Sok Akrab dan Dorce Ketemu Jodoh. Selain film, ia juga membuktikan eksistensinya di bidang tarik suara dengan menelurkan sejumlah album rekaman.

Dorce yang akrab disapa dengan Bunda itu kemudian terus eksis hingga kini. Namanya bahkan dimasukkan sebagai entertainer kelas atas Indonesia. Dorce kini juga hampir setiap hari menyapa pemirsa melalui program TV Dorce Show, sebuah program talkshow dan hiburan ringan di sebuah stasiun televisi.

Mengingat kesuksesannya saat ini, ia pun tak lupa masa kecilnya. Dorce yang telah jadi yatim piatu sejak usia satu tahun kini pun mencoba berbagi kebahagiaan dengan mendirikan panti asuhan. Ia juga mengadopsi empat anak, bernama Rizky, Fatimah, Khadijah dan Abu Bakar. Namun, tak hanya itu. Ia yang mempunyai prinsip semua adalah titipan yang di Atas lantas terus berbagi dengan mendirikan sebuah yayasan anak asuh dengan nama Yayasan Dorce Halimatusa'diyyah.

Di tempat itu, ia mendirikan pusat kegiatan bagi anak-anak yatim dan kurang mampu. Anak didiknya pun tak tanggung-tanggung, sudah ribuan jumlahnya. Selain itu, ia juga mendirikan sekolah TK dan SD yang bertujuan untuk membangun generasi unggulan masa depan. Sungguh, sebuah cita-cita mulia dari seorang Dorce Gamalama.

Perjuangan dan integritas seorang Dorce dalam membuktikan eksistensinya dalam dunia hiburan patut diacungi jempol. Upayanya menjawab berbagai cibiran dan mengubahnya menjadi pujian patut dijadikan teladan. Hanya dengan tekad kuat dan kerja keras, seseorang dapat melewati semua tantangan di depan. Selain itu, kepedulian Dorce terhadap generasi penerus bangsa, juga menjadi sebuah teladan bagi kita untuk mau dan tergerak ikut peduli pada masa depan anak-anak kita. Dengan memberikan perhatian dan pendidikan yang terarah, budi pekerti yang luhur, akan tercipta generasi penerus bangsa yang unggul.



sumber:andriewongso.com

Ken Soetanto

Pepatah yang berbunyi, “There is no greatness without suffering” (Tak ada KEJAYAAN tanpa PENDERITAAN) mungkin tergambar jelas dari perjalanan hidup seorang pantang menyerah bernama lengkap Ken Soetanto ini.

Perjuangan panjang Soetanto dimulai ketika SMA-nya di Surabaya, Chung-Chung High School, ditutup pemeritah untuk selamanya pada 1965, bersamaan dengan terjadinya gejolak politik antikomunisme. Ia akhirnya terpaksa bekerja sebagai tukang reparasi radio di toko milik kakaknya. “Setelah toko tutup pada jam 8 malam, saya belajar sampai jam 5 pagi. Saya terus mengotak-atik radio dan tape. Semangat ini masih saya bawa sampai sekarang.”

Lalu begitu merasa mampu memperbaiki alat elektronik, Soetanto pun berkeliling ke toko-toko elektronik di Blawuran untuk menawarkan jasa reparasi gratis. Meski memberikan jasanya secara cuma-cuma, ia tak lantas dipercaya orang. Hingga Soetanto harus memberikan senjata pamungkasnya dengan ucapan, “Kalau rusak, komponennya saya ganti.” Kegiatan ini berlangsung hingga hampir delapan tahun lamanya.

Walaupun toko milik kakaknya berkembang pesat dan Soetanto sendiri mampu mengumpulkan banyak uang, ia merasakan kehampaan dalam jiwanya. Panggilan jiwanya untuk menimba ilmu hingga mampu menjadi ilmuwan terus mengusiknya. Namun, suasana sosial politik di Indonesia pada masa itu tidak memungkinkan impian Soetanto terwujud. Karena itulah, ia tak punya pilihan lain selain harus pergi ke luar negeri. Dengan bantuan kakaknya dan uang tabungan Soetanto sendiri, ia akhirnya bisa menuntut ilmu ke Jepang.



Meski sudah berhasil menginjakkan kaki di Jepang dan berkesempatan belajar di Negeri Sakura, bukan berarti langkah perjuangan Soetanto berhenti. Justru di sinilah jiwa pantang menyerah dan kegigihannya diuji sangat keras.

Sewaktu Soetanto memulai sekolah kembali di Jepang, usianya sudah 27 tahun. Padahal rata-rata orang Jepang pada umur segitu sudah meraih gelar PhD. Karena itu, ia mendapat hinaan. Meski begitu, ia tak menyerah. Rencana menyelesaikan studi S-1 selama satu tahun akhirnya molor hingga empat tahun.

Pada tahun ketiga masa kuliahnya, perusahaan kakaknya di Pasar Turi ludes terbakar. Pada peristiwa itu, sekitar 4.000 toko di pasar itu terbakar habis dalam tiga hari. Kejadian ini membuat Soetanto tak lagi mendapat bantuan dana dari kakaknya. Bahkan, kakaknya meminta Soetanto untuk pulang ke Indonesia. Namun, Soetanto malah berkata, ”Saya pasti lulus. Saya akan tetap meneruskan sekolah meski tanpa kiriman uang dari kakak.” Kebetulan Soetanto juga memiliki pekerjaan sebagai guru les privat dengan bayaran 40 ribu yen, atau kira-kira sepertiga biaya hidup yang dia butuhkan. Prinsip ”never-never give up” menjadi pegangan Soetanto kala itu.

Dengan prinsip itu pula, Soetanto berhasil menyelesaikan S-1 dalam waktu 4 tahun, S-2 selama dua tahun, dan S-3 selama tiga tahun. Setelah lulus S-3, ia pulang ke Indonesia untuk menjemput istri dan anaknya untuk tinggal di Jepang. Tapi ternyata selama satu tahun kemudian, Soetanto tak kunjung mendapat satu pun pekerjaan. Padahal, ia lulusan Tokyo Institute of Technology yang setara dengan MIT-nya Jepang. Nilai akademik Soetanto pun bagus. Setelah diselidiki, ternyata yang menjadi penghalang dirinya bekerja di Jepang adalah latar belakangnya yang asal Indonesia atau luar negeri.


Terbentur tembok perintang semacam ini membuat Soetanto mencari solusi lain. Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya untuk mendobrak ”tradisi” di Jepang itu adalah ia harus melebihi kepintaran orang Jepang. Karena itulah, ia memutuskan untuk kuliah lagi. Kali ini, ia mengincar gelar PhD di bidang kedokteran. Soetanto mampu meraih gelar ini hanya selama separuh masa studi yang seharusnya, yaitu 7 tahun.

”Dengan mengantongi dua gelar, saya merasa menjadi orang top. Orang Jepang menyebutnya dengan istilah, hantu yang membawa besi. Hantu saja sudah ditakuti, apalagi yang membawa besi,” begitulah pemikiran Ken Soetanto. Namun ternyata, perkiraannya ini meleset jauh. Ia masih saja kesulitan mendapat pekerjaan. Sampai-sampai, istri dan anaknya harus diungsikan ke kerabatnya di Hong Kong.

Lalu, tiba-tiba Soetanto dihubungi oleh mantan profesornya, yang sering ia panggil dengan sebutan Profesor IT. Profesor ini sangat pintar dan hebat serta memiliki hak paten sebanyak 900 item. Namun, ia juga sangat kejam. Saat bertatap muka, sang profesor menceritakan kepusingannya mencari dosen biomedical di Jepang. Lalu, Soetanto menawarkan diri untuk mengisi lowongan itu karena memang latar studinya adalah bidang kedokteran dan biomedical. Singkat cerita, Soetanto diperkenalkan ke rektor dan menjalani tes. Dari hasil itu didapat, nilai respektor Soetanto adalah 37 dan itu sudah sangat cukup, serta bahasa Inggrisnya juga cukup. Karena itu, ia diminta untuk menyerahkan aplikasinya.

Berita itu membuat Soetanto sangat gembira. ”Tuhan memang mengasihi orang-orang yang tak berputus asa,” begitulah pikir Soetanto. Namun, ternyata kenyataan yang lebih pahit harus diterima Soetanto keesokan harinya. Ketika datang kembali ke kampus untuk menyerahkan aplikasi yang diminta dan sampai harus menunggu hingga berjam-jam, ia ”dibombardir” dengan ucapan dingin sang profesor. ”Tanto, ini bukan di Indonesia, ini Jepang. Lupakan aplikasi kamu! Kamu orang Indonesia. Kamu bisa belajar atas bantuan orang Jepang, kok sekarang mau mengajar orang Jepang? Orang Jepang tak butuh kamu!” Sontak hati Soetanto seperti teriris-iris.

Meski perasaannya hancur, tak lantas menghancurkan mimpinya. Hinaan itu malah dijadikannya tekad kuat untuk membuktikan bahwa orang Indonesia juga mampu memiliki kemampuan di atas orang-orang Jepang. Tekad inilah yang kini menjadi kenyataan manis. Setelah ditempa dalam ”bara api yang sangat panas”, kini Soetanto menjadi berlian yang sangat indah.

Ia berhasil meraih gelar profesor dan empat gelar PhD dari empat universitas berbeda di Jepang. Yaitu, PhD di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology, PhD di bidang kedokteran dari Universitas Tohoku, gelar Doktor Ilmu Farmasi dari Science University of Tokyo, dan Doktor Ilmu Pendidikan dari Universitas Waseda. Soetanto menjadi orang pertama non-Jepang yang menduduki jabatan Kepala Divisi di Universitas Waseda. Ia salah satu dari tiga pemohon paten paling terkemuka di Jepang, yang telah mempublikasikan lebih dari 1.100 karya ilmiahnya.

Ken Soetanto berhasil mewujudkan mimpinya semasa muda: menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Luar biasa!



tag:andriewongso.com

Adrie Subono

Bagaimana jadinya jika seorang buta berjalan tanpa tongkat? Berulang kali menabrak, jatuh, atau tertubruk sesuatu. Dan, itu juga barangkali yang dirasakan seorang sosok bernama Adrie Subono ini. Saat kali pertama memutuskan untuk terjun di bisnis pertunjukan musik, tak ada satu pun "tongkat" yang akan memandunya.

"Enggak ada satu pun panduan atau orang yang ngajarin. Karena, waktu itu bisnis ini orang hanya datang dan pergi. Jadi, ya jalanin saja, karena memang saya senang," akunya kepada redaksi majalah LuarBiasa. "Saya hanya ingat ucapan Om Habibie (Adrie adalah keponakan dari mantan Menristek dan Presiden RI ke-3, red). Katanya, ‘Adrie, kalau kamu mau sukses, jadilah kamu ahli di bidang yang kamu geluti!' Itulah kata-kata yang teringat dan saya jadikan pegangan hingga sekarang." Dan, tujuan pasti untuk menjadi "ahli" itulah yang kemudian menjadi "tongkat" Adrie hingga mampu melewati masa-masa pembelajaran kehidupan dan bisnis yang dijalaninya.

Awalnya Sulit

Menilik apa yang dicapainya sekarang, barangkali orang tak membayangkan betapa sulit dan susahnya Adrie mengawali bisnis promotor musik dengan JAVA Musikindo-nya. Seratus lebih artis berkelas dunia sudah berhasil didatangkannya ke Indonesia. Berbagai aliran musik, dari pop, rock, R&B, hingga instrumen modern mampu diolahnya menjadi satu paket hiburan yang membius banyak penggemarnya. Tak heran, jika kemudian orang mengidentikkan dirinya dengan hampir semua pertunjukan musik internasional yang diadakan di Indonesia. Hingga kini, banyak tawaran artis dari luar yang justru datang padanya.



"Kemarin itu ada tawaran manggung artis Pitbull. Saya saja awalnya enggak tau siapa dia.. hahaha. Tapi, karena didesak terus sama agennya, ya sudah. Saya sebarin info kalau saya ada yang nawarin Pitbull. Ternyata, responsnya banyak banget," serunya berkisah.

Bisa dikatakan, Adrie mengawali semua kesuksesannya hanya bermodalkan kenekadan. Adrie yang tak tamat SMA ini belajar jadi promotor dengan modal kesenangannya melihat konser musik saat di luar negeri. "Saya hanya melihat bisnis ini tak bakal ada matinya. Sebab, meski artis silih berganti, tapi mereka semua pasti butuh promotor untuk menggelar pertunjukannya," beber mantan pebisnis bidang perkapalan dan telekomunikasi ini. "Lagipula, ini kan sama saja dengan dagang juga. Kalau dulu jualan kapal, ini jualan tiket...hehehe. Cuma saya sempat dibilang 'sinting' karena ninggalin bisnis yang untungnya jelas-jelas lebih besar."

Belajar Mulai dari Usia 40

Konser perdana yang ditanganinya adalah Saigon Kick. Kala itu, di tahun 1994, melalui PT. JAVA Musikindo yang didirikannya, pelajaran pertama segera dipetiknya. Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar menjadi saksi sejarah pelajaran pahit pertamanya. "Di Jakarta, itu hanya terisi setengah. Di Bandung, malah lebih kacau lagi. Izin keramaian dari polisi baru turun setelah lagu pertama dimainkan," kisah pria kelahiran 11 Januari 1954 ini. "Tapi, dari situ saya jadi belajar banyak hal. Meski ongkosnya pahit dan sangat menyakitkan, saya nggak kapok. Justru di situ komitmen saya diuji."

Kegagalannya di usia ke-40 tahun itu kemudian membuatnya tertantang. Ia ingin membuktikan, bahwa panggilan jiwanya itu telah mengarahkannya pada jalan yang dicari-carinya selama ini. "Saya pada dasarnya kan memang suka musik. Jadi ya jalanin aja."

Konser berikutnya, ia mendatangkan Supergroove yang dipentaskan di M-Club, kawasan Blok M, Jakarta. Dari sana, ia belajar bahwa pemilihan tempat manggung artis menjadi salah satu komponen yang juga harus diperhatikan untuk mendatangkan massa.

Jadwal pemilihan waktu acara juga sempat menjadi pelajaran pahit yang didapatnya. Kala itu, ia sempat mengadakan acara di musim ulangan umum. Padahal, acara yang digagas tergolong besar, yakni Jakarta Pop Alternative Festivals. Bahkan, tiga artis ternama didatangkan sekaligus. "Sejak saat itu, saya belajar melihat tanggal-tanggal penting agar tidak jeblok lagi sat jualan."

Begitulah, begitu banyak pembelajaran dari kisahnya mendatangkan band-band kelas dunia untuk manggung di Indonesia. Dari mulai menangani penonton yang pingsan, membuat barikade keamanan berlapis, hingga membatasi jumlah penonton untuk meningkatkan kenyamanan adalah berbagai pelajaran berharga yang membuatnya sukses hingga kini.

"Coba dilihat, sekarang setiap kali JAVA Musikindo bikin pertunjukan, kita pakai standar maksimal hanya 80% saja yang boleh diisi penonton. Itu semua agar kenyamanan bisa didapat," cetusnya. "Sekarang, kita pasti juga bikin empat lapis keamanan untuk jaga tiket. Itu untuk antisipasi agar tak terjadi desak-desakan dan kecurangan di tiket. Semua itu didapat karena pengalaman."

Tak hanya itu. Urusan menangani artis pun butuh pembelajaran yang sangat unik dan pelik. "Kadang, ada saja artis yang minta macam-macam dan aneh-aneh. Soal nego harga juga lain lagi. Itu semua bisa saya lakukan karena pengalaman dari belajar menangani satu konser ke konser yang lain," terang Adrie yang kemudian menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul WOW ini. "Yang pasti, meski sudah menangani banyak konser, saya masih sering tegang hingga kini."


Belajar dan terus belajar, itulah kunci sukses Adrie Subono hingga mampu menjadi promotor musik paling sukses di Indonesia saat ini.

"Komitmen untuk menjadi ahli seperti yang dikatakan Om Habibie itu terus saya pegang. Karena itu, sesulit apa pun, apalagi saat jenuh dan bosan melanda, komitmen untuk memberikan yang terbaik pada semua pihak, artis, penonton, sponsor, terus saya jadikan pegangan," paparnya. "Satu lagi, selalu bersyukur dengan apa yang saya raih, itu juga menjadi pelajaran penting bagi hidup saya. Dulu saya pernah mencoba menumbuhkan rambut botak ini dengan operasi, tapi batok kepala sudah dioperasi di Jerman, tetap saja tidak tumbuh...hahaha. Di situ saya belajar mensyukuri apa yang saya dapat."
~Kunci Sukses Adrie Subono~


•Komitmen tinggi pada apa yang dikerjakan.
•Selalu optimis apa pun tantangan yang menghadang.
•Terus bersyukur dan jangan cepat putus asa.
•Fokus, fokus, dan fokus, dan jadilah ahli di bidang yang digeluti.
•Segera bangkit dan berdiri lagi ketika menghadapi kegagalan.


tag:andriewongso.com

Selasa, 13 September 2011

Kolonel Harland Sanders - KFC

http://mrsigit80.blogspot.com/


Kolonel Harland Sanders, lahir pada tanggal 9 September 1890. Mulai aktif dalam mewaralabakan (franchise) bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Saat ini, usahanya yang dikenal dengan Kentucky Fried Chicken atau KFC® telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam sistem makanan siap saji di dunia. Sosok Kolonel Sanders, pionir dalam restoran siap saji menjadi simbol dari semangat kewirausahaan.
Lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel dinikmati setiap tahunnya. Dan itu tidak hanya di Amerika Utara. Bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia.
Pada umur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya sudah tidak bisa bekerja lagi, dan Harland muda sudah harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun dan suster bayinya. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan ia meninggal rumah tempat tinggalnya dekat Henryville, Ind., untuk mendapatkan pekerjaan di
pertanian di daerah Greenwood, Ind. Dia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian sebagai pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di kuba.
Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai memasak untuk orang yang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin, Ia belum punya restoran pada saat itu, tetapi ia menyajikan makanannya pada meja makannya di ruang makan di bengkelnya.
Semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran yang kapasitasnya 142 orang. Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini.
Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi Negara bagian cuisine. Dan pada tahun 1939, Keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in Good Eating.”
Pada awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.
Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual. Pada tahun 1964, Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu, ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y. Brown Jr., yang kemudian menjadi Gubernur Kentucky dari tahun 1980 sampai 1984. Kolonel mengingatkan untuk menjadikan terbuka perusahaannya bagi publik. Pada tahun 1976, sebuan survey independen memberi peringkat kedua dunia sebagai selebriti yang terkenal di dunia.
Dibawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh dengan cepat. Kemudian menjadi perusahaan terbuka
pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3,500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan beroperasi hampir di seluruh dunia ketika Heublein Inc. mengakusisi perusahaan KFC pada 18 Juli 1971 seharga $285 million.
Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari R.J. Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco, Inc. oleh PepsiCo, Inc., seharga kurang lebih 840 juta dolar.
Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc. mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya — KFC, Taco Bell dan Pizza Hut – menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans, Inc. Pada Mei 2002, perusahaan mengumumkan menerima persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands, Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.
Sampai akhirnya ia terserang penyakit leukemia pada tahun 1980 di usia 90 tahun, Kolonel telah melakukan perjalanan
250,000 mil dalam satu tahun kunjungan restoran KFC mengelilingi dunia.
Dan itu semua dilakukan oleh seorang laki-laki berusia 65 tahun yang menggunakan uang jaminan sosialnya untuk memulai usaha.
Impian untuk sukses tidak harus impian masa kecil, bisa juga saat usia sudah senja. Inilah kegigihan Kolonel Sanders pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun, pensiunan angkatan darat dari negara adidaya, tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima resepnya tersebut dan kini kita dapat menikmatinya di Indonesia, Kentucky Fried Chicken.
Mungkin impian Kolonel Sanders sangat sederhana, ingin memiliki uang yang layak untuk hidup di hari tuanya yang tinggal sebentar lagi.

Walt Disney

http://mrsigit80.blogspot.com/

Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya Flora Call, adalah seorang wanita Jerman. Sedangkan ayahnya Elias Disney, adalah seorang keturunan Irlandia. Kehidupan keluarga Disney berpindah dari satu kota ke kota lain, karena Elias Disney, yang sebenarnya terpesona oleh dunia bisnis, tidak mempunyai kesesuaian diri dengan dunia itu dan seringkali mengalami kegagalan finansial.

Pada tahun 1906, keluarga Disney pindah ke daerah Marceline, Missouri, di tanah pertanian yang baru dibelinya. Walt Disney kecil menyukai kehidupan di daerah barunya tersebut. Selain itu, kehidupan di desa tersebut juga menghidupkan rasa sayangnya kepada binatang-binatang yang hidup di sekitarnya, seperti bebek, tikus, dan anjing.
Kelak, ternyata hewan-hewan itulah yang membuat namanya menjulang. Dari sini, Walt Disney menarik pelajaran berharga yang dia terapkan sepanjang hidupnya, yaitu bahwa KEBAHAGIAAN AKAN TIMBUL DALAM DIRI KITA APABILA KITA MELAKUKAN SESUATU YANG BENAR-BENAR KITA SUKAI.

Kehidupan Walt Disney yang bahagia itu teryata hanya bisa dinikmati sesaat saja. Kegagalan panen yang berturut-turut membuat Elias Disney, ayahnya harus menjual ladang pertaniannya dan membeli sebuah perusahaan koran setempat yang kecil. Untuk menghemat biaya pegawai, Elias Disney mempekerjakan Walt Disney dan kakaknya Ray tanpa biaya. Setiap pagi pukul 3.30 dinihari Walt dan Ray sudah harus bangun untuk menunggu kedatangan truk pengangkut. Sesudah itu mereka harus menjalankan tugas harian mengantarkan koran kepada para pelanggan di kota.

Kadang-kadang orang menjumpai Walt berjalan dengan kelelahan dan gemetar kedinginan dengan bawaan hampir seberat dua kali berat tubuhnya. Adakalanya cuaca begitu dingin, sehingga Walt harus berjongkok di sudut jalan sekedar untuk menghangatkan diri.
Seringkali Walt berpikir, apakah untuk hidup di dunia ini orang harus bekerja mati-matian sebagai budak dengan upah yang hanya bisa sekedar untuk survive ? Tidak adakah jalan lain untuk hidup?

Bila Walt mengantarkan koran untuk para pelanggannya yang kebanyakan adalah orang kaya di kota, maka Walt juga mulai berpikir mengapa mereka bisa hidup mewah, sementara dirinya hidup serba kekurangan.

Hal ini akhirnya melahirkan pelajaran kedua di dalam hidupnya, yaitu bahwa KEHIDUPAN ITU ADALAH SUATU PILIHAN. APAKAH KITA MAU HIDUP KAYA ATAU MISKIN, TERGANTUNG ATAS KEPUTUSAN DAN TINDAKAN KITA SEPENUHNYA SAAT INI.

Atas dasar pemikiran itulah maka setelah beranjak dewasa Walt BERSIKERAS/BERTEKAD memutuskan untuk masuk ke dinas tentara, karena menurutnya pekerjaan tentara bisa lebih memberi kekayaan dibanding sebagai pengantar koran yang bekerja tidak dibayar.
Di sela-sela dinas ketentaraannya, Walt menggunakan waktu luangnya untuk menggambar.
Rupanya, bakat Walt dalam menggambar memang luar biasa, sehingga dalam waktu yang singkat banyak teman-temannya di ketentaraan yang minta dibuatkan gambar dirinya.

Setelah perang dunia I usai, Walt keluar dari dinas tentara. Saat itu, sangatlah sulit mencari pekerjaan. Ini merupakan masa-masa paling suram dalam kehidupan Walt Disney. Untuk kembali ke orang tuanya dia malu, karena waktu itu dia sering menyombongkan pada orang tuanya bahwa pekerjaan tentara itu adalah `pekerjaan orang kaya'. Walt tidak mempunyai uang barang sedikitpun, dan terpaksa menumpang di belakang sebuah bengkel kecil, dengan sebuah bangku usang, satu-satunya perabotan yang dimilikinya, untuk makan dan tidur. Lebih parah lagi, seminggu sekali dia harus pergi mengendap-endap ke stasiun kota di malam hari hanya sekedar untuk `mencuri' mandi.

Walt menyadari, bahwa hal ini tidak mungkin dibiarkan terus menerus. Dia kembali ingat impiannya di masa lalu, bahwa dia ingin menjadi kaya, bukan gelandangan seperti sekarang. Tapi, apa yang bisa dilakukan dengan keadaannya yang sekarang, tanpa modal, tanpa kenalan, tanpa pekerjaan. Dalam keadaan paling parah dalam hidupnya, Walt akhirnya bisa merumuskan prinsip hidupnya yang ketiga, yaitu TIDAK PEDULI SEBERAPA PARAH KEADAAN KITA SAAT INI, NAMUN KEADAAN PASTI AKAN BERUBAH LEBIH BAIK APABILA KITA MASIH MEMILIKI SATU HAL : HARAPAN.

Harapan itu pula yang terus memacu pikiran Walt. Akhirnya Walt menyadari, bahwa satu-satunya yang masih dimilikinya adalah bakat menggambarnya. Tapi, bagaimana caranya agar bakat tersebut bisa menghasilkan uang untuk dirinya?

Setelah sekian lama mencari-cari, Walt memutuskan bahwa Hollywood adalah tempat yang cocok dengan dirinya, dengan bakat yang dimilikinya. Untuk kesana, terpaksa Walt menahan malu dan meminjam uang dari kakaknya Ray. Setibanya disana, ternyata Walt hanyalah satu dari sekian ribu orang yang berharap bisa menjadi bintang di Hollywood.
Mulailah Walt masuk satu persatu ke studio yang ada disana, dan mencoba menawarkan diri untuk bekerja apa saja, asal ada hubungannya dengan dunia perfilman. Bukan hal yang mudah ternyata, karena tidak ada satupun studio yang mau menerimanya, bahkan untuk pekerjaan yang paling rendah sekalipun.

Walt menyadari, bahwa para studio itu menolaknya karena dirinya tidak menunjukkan satu keahlian khusus, yang membuat mereka tertarik kepadanya. Belajar dari situ, Walt membeli beberapa kertas kosong dan mulai menggambar. Kemudian Walt kembali lagi ke studio-studio itu lagi, kini dengan menonjolkan `bakat' yang dimilikinya. Ternyata ada satu studio yang tertarik dengan bakat Walt yang luar biasa. Mereka bahkan langsung memesan satu cerita "Alice in The Wonderland" dalam bentuk film kartun bergerak, dengan harga awal US$ 1.500. Jumlah itu justru membuat Walt kaget, karena pada awalnya Walt hanya berharap mendapatkan upah US$ 50 sebulan, hanya sekedar untuk bertahan hidup. Rangkaian film "Alice in The Wonderland" sukses luar biasa di bioskop Amerika, dan bertahan sampai tiga tahun berturut-turut. Dengan hasil dari film ini, Walt mulai bisa memperbaiki hidupnya, membeli rumah, membuat studio sendiri dan menikah dengan Lilian Bounds.

Suatu hari, Walt teringat masa kecilnya yang bahagia di pedesaan. Hal ini menginspirasi dirinya untuk menggambar tiga sahabat binatangnya waktu itu, yaitu bebek, tikus, dan anjing. Dari sinilah kemudian lahir Donald Duck, Mickey Mouse dan Pluto. Ketiga binatang inilah yang membawa Walt Disney menuju ke kejayaannya sebagai seorang bintang di Hollywood. Selain itu, Walt juga rajin menciptakan film-film animasi lain yang terus mencetak uang bagi dirinya, seperti Snow White, Cinderella, Peter Pan dan Bambi.Dari sinilah Walt kemudian mendedikasikan diri seutuhnya untuk kebahagiaan anak-anak sedunia.

Pada tahun 1950, Walt mempunyai impian untuk membangun taman impian bagi anak-anak.
Impian Walt ini dianggap gila oleh rekan-rekannya sesama pengusaha, namun Walt tetap dengan pendiriannya. Taman bermain ini akhirnya bisa diwujudkan pada tahun 1955 di Anaheim, California.
Pada waktu pembukaan, Walt mengatakan dalam pidatonya

"KESUKSESAN DIMULAI KETIKA KITA MULAI MENCIPTAKAN IMPIAN JAUH KEDEPAN.
DAN SAAT KITA BERKOMITMEN UNTUK MENCAPAI IMPIAN ITU, MAKA SELANJUTNYA IMPIAN ITU YANG AKAN MENJADI MAGNET DAN MENARIK KITA KESANA......".

Walt Disney meninggal pada tahun 1966. Namun visi dan impiannya untuk kebahagiaan anak-anak akan terus dikenang oleh dunia sepanjang masa.

Joanne Kathlen Rowling Penulis Harry Potter

http://mrsigit80.blogspot.com/

Sejak kecil, Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. bahkan di usia 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. ia juga memiliki kegemaran tanpa malu” menunjukan karyanya kepada teman” dan orangtuanya. kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa. daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di dunia.

akan tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti disera masalah. keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. ditambah dengan perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. tahun 1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.
naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. berbagai penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. diantaranya, adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne Rowling. pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.

akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak dipasaran. semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesukdedan yang dibayar dengan harga murah

Steve Jobs Pendiri Apple Computer

http://mrsigit80.blogspot.com/
Tahun 1976, bersama rekannya Steve Wozniak, Jobs yang baru berusia 21 tahun mulai mendirikan Apple Computer.Co di garasi milik keluarganya. dengan susah payah mengumpulkan modal yang diperoleh dengan menjual barang” mereka yang paling berharga, usaha itu pun dimulai. komputer pertama mereka, Apple 1 berhasil mereka jual sebanyak 50 unit kepada sebuah toko lokal. dalam beberapa tahun, usaha mereka cukup berkembang pesat sehingga tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley dari Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan itu. sampai sejauh itu, Apple Computer menuai kesuksesan dan makin menancapkan pengaruhnya dalam industri komputer terlebih dengan diluncurkannya Macintosh. namun, pada tahun 1985, setelah konflik dengan Sculley, perusahaan memutuskan memberhentikan pendiri mereka, yaitu Steve Jobs sendiri.

setelah menjual sahamnya, Jobs yang mengalami kesedihan luar biasa banyak menghabiskan waktu dengan bersepeda dan berpergian ke Eropa. namun, tak lama setelah itu, pemecatan tersebut rupanya justru membawa semangat baru bagi dirinya. ia pun memulai usaha baru yaitu perusahaan komputer NeXT dan perusahaan animasi Pixar. NeXT yang sebenarnya sangat maju dalam hal teknologinya ternyata tidak membawa hasil yang baik secara komersil. akan tetapi, Pixar adalah sebuah kisah sukses lain berkat tangan dinginnya. melalui Pixar, Jobs membawa trend baru dalam dunia film animasi seiring dengan diluncurkannya film produksinya Toy Story dan selanjutnya Finding Nemo dan The Incredibles.

sepeninggal Jobs dan semakin kuatnya dominasi IBM dan Microsoft membuat Apple kalah bersaing dan nyaris terpuruk. maka, tahun 1997, Jobs dipanggil kembali untuk mengisi posisi pimpinan sementara. dengan mengaplikasi teknoligi yang dirancang di NeXT, kali ini Apple kembali bangkit dengan berbagai produk berteknologi maju macam MacOS X, IMac dan salah satu yang fenomenal yaitu iPod.

kisah sukses Steve Jobs mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. penolakan dan kegagalan seringkali mewarnai perjalanan hidup kita, tapi jangan biarkan semua itu membuat kita berhenti.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More