IMAGE-1 IMAGE-2 IMAGE-3 IMAGE-4 IMAGE-5
Tampilkan postingan dengan label SQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SQ. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

Cara Efektif Membangkitkan Kecerdasan Spiritual dalam diri


Kecerdasan emosional memang membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup. Tapi untuk menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual.
.....

Awal juni lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa tragis yang terjadi di Bandung. Seorang wanita yang dikenal sholeh, berpendidikan tinggi, sanggup membunuh 3 anaknya sendiri dalam waktu 24 jam. Bagaimana mungkin seorang wanita yang taat beragama bisa melakukan hal seperti itu? Apalagi kemudian terungkap alasan dari tindakannya itu. Katanya, ia membunuh anak-anaknya justru karena sangat menyayangi anak-anaknya dan takul tidak mampu rnenjadi ibu yang baik.

Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, itu bisa terjadi karena dia tidak bahagia. Kalau meminjam istilahnya Tony Buzan, pakar tentang otak manusia dari Amerika, kemampuan seseorang untuk berbahagia dalam segala situasi berhubungan dengan kecerdasan spiritualnya. Seseorang yang dikatakan taat beragama belum tentu cerdas secara spiritual. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual? Dan apa bedanya dengan kecerdasan emosional?

Bedanya Kecerdasan Emosional dan Spiritual

Pada awalnya, orang hanya mengenal kecerdasan iritelektual, kemudian muncul kecerdasan emosional dan kini kecerdasan spiritual. Menurut DR Jalaluddin Rakhmat MSc, seorang psikolog, kecerdasan emosional (emotional intelligent) dipopulerkan Daniel Coleman meskipun dia bukan penemunya. Psikolog Howard Gardner adalah orang yang pertama menemukan sejenis kecerdasan untuk bisa memaharni orang-orang lain, dan disebutnya sebagai kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligent).

Oleh Daniel Coleman, selelah sepakat dengan penelili-peneliti lain, kecerdasan interpersonal itu disebutnya kecerdasan emosional. Pada intinya, kecerdasan emosional adalah kemampuan orang untuk memahami orang-orang di sekitamya, berinteraksi untuk mengembangkan empati, simpati, dan untuk bisa bekerjasama.

Sedangkan Howard Gardner merumuskan delapan kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan musikal, kinestetik (kemampuan menari), visual (kemampuan menggambar, mengekspresikan sesuatu dalam bentuk lukisan), logis matematis, interpersonal (personal), intrapersonal (berpikir refleksi), linguistik (menggunakan bahasa), dan naturalistik. Tapi Gardner tidak memasukkan kecerdasan spiritual karena katanya kecerdasan spiritual itu tidak punya tempat di dalam otak kita seperti kecerdasan yang lain.

Tapi belakangan kecerdasan spiritual itu menurut penelitian-penelitian di bidang neurologi (ilrnu tentang syaraf) justru punya tempat di dalam otak. |adi ada bagian dari otak kita dengan kemampuan untuk mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, untuk melihat Tuhan. Dalam hal ini maksudnya adalah menyadari kehadiran Tuhan di sekitar kita dan untuk memberi makna dalam kehidupan. jadi ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah bisa memberi makna dalam kehidupannya.

Sedangkan ciri umum orang yang cerdas secara emosional yaitu sukses dalam kehidupan, sukses dalam pekerjaan, mampu bekerjasama dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi. Dia juga biasanya pintar menarik hati orang lain, bisa memahami sifat setiap orang dengan tepat, biasanya juga hafal nama-nama orang yang dikenalnya dan mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan orang itu. Orang yang cerdas secara emosional itu dalam tingkat yang negatif bisa memanipulasi orang tapi dalam tingkat yang positif bisa menjadi pemimpin yang baik.

Cerdas Spiritual Beda Dengan Sikap Religius

Sayangnya, masih menurut DR jalaluddin Rakhmat, di Indonesia kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, pokoknya yang menyangkut agama. Jadi kecerdasan spiritual dipahami secara keliru. Padahal kecerdasan spiritual itu kemampuan orang untuk memberi makna dalam kehidupan. Ada juga orang yang mengartikan kecerdasan spiritual itusebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya.

Mengutip Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika, DR jalaluddin Rakhmat menyebutkan bahw ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa rnemikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta (Tuhan atau apapun yang diyakini, kekuatan alam semesta misalnya), dan punya sense of humor yang baik. Di Amerika, pelatihan-pelatihan kecerdasan spiritual ditujukan untuk itu, yaitu melatih orang memilih kebahagiaan di dalam hidup.

Penelitian itu dilanjutkan sampai muncul aliran di dalam psikologi yang membuat terapi baru. Dulu kalau ada orang depresi diobati dengan obat anti depresi seperti prozak, sekarang cukup disuruh beramal, menolong orang lain, ternyata terjadi perbaikan. Dengan menolong dan beramal, dia menemukan bahwa hidupnya bermakna, dan itu namanya kecerdasan spiritual, jadi orang yang cerdas spiritual itu bukan yang paling rajin salatnya, tapi yang senang membantu orang lain, mempunyai kemampuan empati yang tinggi, juga terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.

Di Indonesia buku Kecerdasan Spiritual yang pertama ditulis oleh Danah Zohar. Saya memberikan kata pengantar disitu sekaligus mengkritik Danah Zohar, tapi ada juga yang tidak saya kritik yaitu kata-kata Danah Zohar bahwa bisa saja seorang ateis malah memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Banyak orang menjadi ateis itu bukan karena argumentasi rasional tapi karena tingkah laku para pemeluk agama yang mengecewakan mereka misalnya melihat orang-orang beragama yang tidak bisa menghargai perbedaan pendapat, merasa dirinya paling benar, dan suka menghakimi orang lain.”

“jadi ada orang yang tidak mempersoalkan Tuhan, yang penting bisa berbuat baik kepada orang banyak. Ini ciri orang yang cerdas spiritual juga. Sekarang baru terbukti secara psikologis bahwa banyak menolong orang itu membuat bahagia. Mengapa? Karena dengan begitu kita jadi menemukan misi hidup.” Demikian penjelasan DR |alaluddin Rakhmat.

Kecerdasan Spiritual Bisa Dilatih

Kini pelatihan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual semakin mudah ditemukan (lihat boks “Cara praktis cerdas spiritual” dan “Cerdas emosi dan spiritual lewat sembilan jalan”). Masih menurut DR Jalaluddin Rakhmat, mengikuti training bisa saja membantu mempengaruhi kecerdasan spiritual selama konsepnya benar. Keberhasilan seseorang belajar lewat training dapat dilihat jika setelah mengikuti training hidupnya berubah menjadi positif yang tadinya depresi atau menderita kecemasan, ketakutan pada masa depan, kebingungan, lalu menjadi bahagia.

Cara Praktis Cerdas Spiritual

Menurut Erbe Sentanu dari Katahati Institute, kecerdasan spiritual itu mempunyai banyak konsep, kiat, dan caranya. “Saya sendiri selalu melihat ke sisi pragmatis dan empirisnya,” katanya. Orang yang cerdas secara spiritual itu bagaimana sih rasanya? Otak dan tubuhnya beroperasi seperti apa?

“Buat saya cerdas secara spiritual atau dekat dengan Tuhan itu harus dibuktikan dengan berada di zona ikhlas yang mensyaratkan tiga hal, yaitu gelornbang otaknya harus lebih banyak dalam posisi Alfa dan Tetha, kemudian sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan memunculkan perasaan tertentu kepada Tuhan, lalu tubuhnya harus cukup mengandung hormon serotonin, endorfin, dan melantonin dalam komposisi yang pas. Dalam kondisi itu, maka dengan sendirinya ciri-ciri kecerdasan spiritual akan muncul.”

“Tanpa ketiga syarat itu, agak sulit dipercaya. Misalnya seseorang mengaku dekat dengan Tuhan tapi hormon di tubuhnya dominan kortisol, yaitu hormon yang muncul pada saat orang stres, bagaimana mungkin? Seseorang yang dekat dengan Tuhan mestinya lebih banyak berada dalam kondisi khusyuk, kondisi rileks, dan hormon di tubuhnya pasti hormon yang bagus seperti hormon DHEA, serotonin, endorfin, dan melantonin”.

Mempelajari kecerdasan spiritual tidak bisa begitu saja lewat buku, karena hasilnya hanyalah pemahaman kecerdasan spiritual lewat logika, apalagi kalau membacanya sambil stres. Akan lebih efektif jika menggunakar brainwave technology, yaitu dengan mendengarkan CD musik yang berfungsi rnenarik gelornbang otak ke Alfa-Theta selama 20 menit pada pagi dan petang hari.

Kita juga bisa melatih kecerdasan spiritual lewat puasa dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelornbang otak dari Beta ke Alfa-Theta sehingga rnembuat orang lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Kalau itu berlanjut hingga 10 hari maka otaknya akan stabil beroperasi di Alfa-Theta. ” “Kalau hal itu bisa berlanjut hingga 20 hari, maka hormon-hormon yang baik dan menenangkan akan diproduksi oleh tubuh. Saat itu dia akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, mudah rnerasa terharu.”

” Memunculkan perasaan mudah bersyukur itu penting sekali karena rasa syukur bisa diartikan sebagai kemampuan menikmati hidup ini apapun kondisinya, sehingga susah atau senang rasanya tetap nikmat. Rasa syukur yang benar, dalam arti betul-betul menghayati nikmatnya hidup, juga sangat membantu memunculkan kecerdasan spiritual. (N)


Memperkaya Sisi Spiritual Lewat Pelatihan

Rizal Pingai (karyawan swasta)

“Saya sudah sering mengikuti pelatihan, diantaranya ESQ. Holistik Alwan Nasution, juga Neurolog Wiwoho,” tutur Rizal Tingai. “Menurut saya, setiap pelatihan selalu memberikan nilai tambah dalam perkembangan jiwa. Tapi jawaban dari apa yang saya cari selama 32 tahun baru saya ternukan setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute,” sambungnya.

“Tadinya saya termasuk orang dengan temperamen tinggi, tapi kini saya berubah. Dulu saya stres menghadapi kemacetan, sekarang bisa ikhlas dan bisa berpikir barangkali setiap orang memang punya tujuan yang sama. Selain itu, kalau dulu setiap berdoa saya terus saja meminta tapi lupa bersyukur, kini setiap berdoa selalu diawali dengan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Dengan anak-anak pun saya lebih sabar dan pengertian. Saya pernah minta maaf kepada anak saya karena merasa salah, padahal dulu itu sesuatu yang sulit dilakukan.”

“Dalam hidup, kita cenderung lebih banyak menggunakan otak. Padahal dengan perasaan dan keikhasan kita justru bisa menghasilkan loncatan-loncatan dalam kehidupan. Bermirnpi ketika tidur itu biasa, yang tidak biasa adalah bermimpi di alam sadar. Karena setiap orang harus punya imajinasi untuk diwujudkan, jadi kita perlu melakukan improvisasi dan inovasi terus menerus,” ujarnya lagi.


Doddy Nasution (asisten manager purchasing sebuah perusahaan asing)

“Pengalaman saya selelah mengikuti berbagai pelatihan, ternyata bahwa pelatihan yang membuat orang menangis itu efeknya hanya dalam jangka pendek,” tutur Doddy. “Pada saat pelatihan memang rasanya lega, karena kita memang butuh pelepasan masalah-masalah hidup. Tapi setelah di rumah semua masalah itu kembali lagi. Jadi rasanya hanya sesaat lari dari kenyataan saja, ” lanjutnya.

“Saya lebih cocok dengan solusi yang diberikan kang Jallal (DR Jalaluddin Rakhmat - Red), yaitu dengan membantu orang lain. Beramal baik itu meringankan perasaan. Bukan berarti masalah kita lalu selesai, tapi masalah kita itu menjadi terasa ringan dengan menolong orang tanpa rnemandang agama, suku, ras. Pokoknya kepada semua mahluk Tuhan tanpa pilih-pilih.”

“Dengan berkhidmat kepada sesama seperti itu ternyata membuat kita lebih kuat, meringankan derita, dan lebih cepat mengantarkan kita pada kecerdasan spiritual yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun akhirnya rnemudahkan urusan-urusan kita,” begitu pendapat Doddy Nasution.

Abi (wiraswasta)

“Sejak dulu saya memang senang membaca buku-buku psikologi, dan suka mengikuti seminar-seminar motivasi seperti seminarnya Anthony Robbins, juga pelatihan-pelatihan. Yang saya rasakan, pengaruh semua bacaan, seminar, dan pelatihan itu biasanya hanya bertahan selama 2 bulan,” tutur Abi.

“Tapi sejak mengikuti pelatihan di Katahati, pikiran saya rasanya seperti diset ulang dengan brainwave technology sehingga terjadi perubahan paradigma dan cara saya dalam rnemandang segala sesuatu. Rasanya saya jadi lebih fokus dalam menghadapi masalah dan bisa tenang. Emosi pun terkontrol dengan baik, saya tak lagi mudah marah dan tersinggung. Di jalanan yang rnacet, kaiau biasanya merasa mendongkol, kini malah bisa menikmati kemacetan,” tutur Abi.

“Masalah itu kalau dinikmati ternyata bisa menjadi ringan; kalau diterima dengan ikhlas dan senyuman, bisa lebih mudah selesai. Kini karena hati saya bisa menerima segala keadaan, maka tak ada amarah, tak ada perasaan atau tindakan negatif. Sangat luar biasa. Salat menjadi lebih khusyuk, berdzikir pun enak. Kata sekretaris di kantor, sekarang saya juga menjadi lebih sering tersenyum,” demikian Abi.

Iranti Emingpradja (artis, presenter, penulis)

“Mengerti kecerdasan spiritual lewat rasio itu mudah, tapi untuk betul-betul menyadarinya dan mengamalkannya itu susah, ” demikian komentar Irianti Erningpradja. “Buku pertama yang saya tulis adalah tentang kecerdasan spiritual (judulnya Kebiasaan sehari-hari untuk meningkatkan kecerdasan spiritual) Jadi saya sudah lama tahu bahwa ciri orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi itu diantaranya mudah memaafkan, jujur, sabar, tidak mudah tersinggung, kreatif, terbuka, spontan, memahami jati diri, memiliki misi hidup,dll. Tapi untuk bisa terus menerus mempraktikkan semua itu ternyata tidak mudah,” sambungnya.

“Sebenarnya saya sudah sering mengikuti pelatihan, tapi setelah mengikuti pelatihan di Katahati Institute, barulah saya sadar bagaimana caranya supaya cerdas spiritual,” katanya. “Dengan cara connect ke dalam hati, semua karakteristik yang harus dimiliki tersebut ternyata bisa muncul sendiri dari dalam dan lebih mudah dipraktikkan. Jadi bukan lagi berupa hafalan atau teori saja. Kuncinya ternyata satu hal itu, consult your heart.”

“Namun setelah itu bukan berarti lalu semuanya selesai karena manusia tetap harus lerus tumbuh. Manusia adalah spirit yang sifatnya tak terbatas. Dengan terus browsing lewat hati, kita bisa terus menemukan pemahaman yang tidak pernah berhenti.” lanjutnya dengan bijak.(N)


sumber:Nirmala Edisi Ramadhan September 2006

Delapan Tanda Kecerdasan Spiritual

Orang yang memiliki kesehatan fisik dapat dilihat dari kondisi kesehatan fisiknya, kecekatan, keluwesan fisik, kekuatan dan daya tahan(endurance) fisiknya.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dapat dilihat dari sikap, temperamen, dan perilakunya, seperti sikap gembira, bahagia, ceria, optimis, memiliki keberanian, menghargai orang lain, pandai membawa diri, dan sebagainya.

Orang yang memiliki kecerdasan mental intelektual tinggi dapat dilihat dari ilmu pengetahuan dan ketrampilan atau keahlian yang dimilikinya, kecepatan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, moralitas yang baik, apresiasi seni yang baik, dan sebaginya.

Bagaimana dengan orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi? Berikut ini adalah tanda-tanda nya.

Fleksibel

Evolusi Spiritual

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi di tandai dengan sikap hidupnya yang fleksibel atau luwes. Orang ini dapat membawa diri dan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang dihadapi, tidak kaku atau memaksa kehendak . Ibarat air, dapat menyesuaikan diri dengan bentuk wadahnya. Demikian pula orang ini mudah mengalah . Dengan demikian dapat menerima berbagai keadaan.

Kemampuan Refleksi Tinggi

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi, memiliki kemampuan refleksi yang tinggi. Dia cenderung bertanya ‘mengapa” atau “bagaimana seandainya” sebagai kelanjutan “apa” dan “bagaimana”. Orang ini juga suka bertanya atau merenungkan hal-hal fundamental: dari mana asalnya manusia ini dan kemana arah hidup manusia; dari mana alam semesta ini; mengapa ada takdir dan nasih; dan sebagainya. Mereka juga memiliki kemampuan yang tinggi pula dalam menganalisis persoalan rumit dan persoalan metafisika.

Kesadaran diri dan lingkungan tinggi

Kesadaran diri tinggi berarti telah mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia telah mampu mengendalikan dirinya, misalnya mengendalikan emosi dan dorongan-dorongan lainya. Dengan mengenal dirinya,maka dia juga mengenal orang lain, mampu membaca maksud dan keinginan orang lain.

Kesadaran lingkungan tinggi mencakup kepedulian terhadap sesama, persoalan hidup yang dihadapi bersama, dan juga peduli terhadap lingkungan alam, seperti kecintaan terhadap flora dan fauna.

Kemampuan Kontemplasi Tinggi

Orang memilki kecerdasan spiritual tinggi di tandain dengan kemampuan kontemplasi yang tinggi , yaitu: kemampuan mendapat inspirasi dari berbagai hal; kemampuan menyampaikan nilai dan makna kepada orang lain(memberi inspirasi); mengamati berbagai hal untuk menarik hikmahnya atau mendapat inspirasi; memiliki kreatititas tinggi dan kemampuan inovasi yang berasal dari inspirasi yang di dapatnya.

Berpikir Secara Holistik

Berpikir secara holistic berarti berpikir secara menyeluruh, mengkaitkan berbagai hal yang berbeda-beda. Berpikir secara sistem, tidak terkotak-kotak atau tersegmentasi.

Dengan berpikir secara holistik ini maka terlihat hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Dia juga menghargai perbedaan-perbedaan dan mampu bersinergi. Dia berpikir bahwa segala sesuatu di alam ini adalah satu kesatuan sistem yang besar, dimana komponen-komponennya saling mendukung.

Berani Menghadapi dan Memanfaatkan Penderitaan

Segala kesulitan hidup merupakan tempaan atau ujian untuk meningkatkan kesadaran diri seseorang. Untuk belajar melepaskan kelekatan duniawi maka seseorang misalnya harus mengalami kehilangan barang, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, jabatan , dan sebagainya.

Hendaknya kita dapat mengambil hikmah yang positif dari semua kejadian yang kita alami. Bagaimanapun mula-mula kita merasa sakithati kehilangan apa yang kita miliki. Namun dari situ kita juga belajar pasrah atau menerima kejadian yang telah kita alami.

Berani Melawan Arus dan Tradisi.

Ada kebijaksanaan yang mengatakan, sebaiknya kita hidup mengalir seperti air. Ikuti sajalah kemana arus membawa kita. Namun di sini kita di tantang untuk melawan arus jika dibutuhkan. Para nabi pada umumnya adalah orang yang melawan arus dan merombak tradisi masyarakatnya. Meskipun untuk itu harus menghadapi perlawanan dari orang-orang yang ingin mempertahankan tradisi itu.

Tradisi yang buruk saat ini sedang terjadi di tengah bangsa Indonesia, yaitu tradisi korupsi. Betapa banyak pegawai yang korupsi, mulai dari tingkat atas hingga bawah. Tidak hanya di lingkungan kantor pemerintah, juga di lingkungan perusahaan swasta. Korupsi jelas menyebabkan ambruknya tatanan masyarakat kita. Maka beranikah kita melawan arus hidup di tengah masyarakat yang korup?

Kita di tantang untuk menjadi seperti bunga teratai, meskipun hidup di atas Lumpur, tetapi bisa menampilkan keindahannya, tanpa tercemar oleh Lumpur tenpat hidupnya.

Sesedikit Mungkin Menimbulkan Kerusakan.

Pada saat ini kita sering mendengar mengenai berbagai bencana alam dan musibah yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Banyak bencana alam yang terjadi karena ulah manusia. Misalnya:
Penggunaan bahan bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan efek rumah kaca sehingga bumi semakin panas dan es kutub mencair , menaikkan tingkat permukaan air laut, dan menenggelamkan daratan yang rendah.
Penebangan hutan yang tidak terkendali dapat menyebabkan banjir local dan perubahan iklim dunia.

sumber:kabarsehat.com




Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi

Setiap mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi suatu kecerdasan, biasanya kecerdasan yang dimiliki oleh semua mahluk yang hidup dibumi ini adalah kecerdasan untuk tetap bertahan hidup, cara bagaimana seorang mahluk serta generasinya agar dapat terus survive dengan melakukan adaptasi dan evolusi. Rasa aman adalah implementasi dari kecerdasan primitif ini, terhindar dari bahaya yang berupa pemangsa maupun kekejaman alam merupakan akibat dari penggunaan quotient. Semakin tinggi tingkat kerumitan suatu mahluk diciptakan maka anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan juga semakin tinggi, dan manusialah mahluk yang diciptakan dengan kecerdasan yang paling tinggi, jika dilihat dari fisik otak , kemampuan otak manusia meliputi kecerdasan reptil atau batang otak, kecerdasan mamalia atau sistem limbik dan kecerdasan manusia atau neokortek yang membedakan dengan mahluk lainnya.
Fungsi dari batang otak atau otak reptil adalah perilaku yang berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies dengan memperhatikan pada ketersediaan makanan, tempat tinggal dan keberlangsungan reproduksi. Keaadaan bahaya atau gawat membangkitkan otak reptil untuk memutuskan menghadapinya atau menghindarinya. Disekeliling otak reptil terdapat sistem limbik yang cukup luas dan kompleks, sistem limbik dimiliki seluruhnya oleh hewan mamalia, fungsinya menyimpan emosi dan bersifat kognitif, sistem limbik menyimpan perasaan, pengalaman, memori dan kemampuan belajar pada mamalia. Sistem limbik merupakan panel kontrol utama menggunakan informasi yang disampaikan oleh panca indera manusia, kemudian informasi ini disampaikan ke bagian neokortek yang terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, fungsi bagian ini adalah mengatur pesan-pesan yang disampaikan oleh sistem limbik yang dapat berupa penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan dan lain-lain. Jadi sebenarnya yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah adanya neokortek dan disinilah kecerdasan manusia : IQ, EQ dan SQ berasal.
Pada mulanya, kecerdasan manusia hanya diukur dari tingkat kecerdasan intelektualnya atau IQ, IQ seorang manusia dapat ditempatkan pada tingkat-tingkat tertentu ; dibawah rata-rata, rata-rata, diatas rata-rata dan genius. Pemeringkatan ini berdasarkan hasil tes yang dilakukan saat, seseorang menyelesaikan suatu uji IQ. Ketika orang tersebut menganggap serius tes yang akan dihadapinya, akan mendapatkan hasil yang berbeda saat orang tersebut menganggap uji IQ sebagai suatu permainan belaka, karena ternyata tingkat emosi seseorang juga berpengaruh besar pada hasil uji tersebut. Dalam keadaan tertekan membuat seseorang cenderung mendapatkan hasil IQ yang lebih rendah dibandingkan jika ia menganggap tes IQ hanya main-main. Dari hasil pengamatan ini, ternyata IQ bukanlah satu-satunya patokan mengukur kecerdasan manusia, ada kecerdasan lain yang juga mempengaruhi. Kemudian timbulah konsep kecerdasan emosional atau EQ yaitu kecerdasan yang muncul dan dipengaruhi oleh nilai perasaan dan emosi kita, dan hal yang lebih mencengangkan adalah kecerdasan emosional ternyata lebih mendominasi dan mempengaruhi kehidupan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual. Dari hasil riset yang dilakukan oleh para ahli psikologi didapat bukti ilmiah : keberhasilan hidup seseorang yang diukur dari tingkat kesuksesan dan kekayaan ternyata disebabkan oleh tingkat EQ orang tersebut, bukan dari kecerdasan intelektualnya. Kecerdasan intelektual hanya menjadi pengantar bagi keberhasilan seseorang yang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Jadi orang yang memiliki IQ tinggi belum menjamin keberhasilan orang tersebut, bisa jadi di bagian pendidikan formal seperti sekolah, ia akan mendapatkan kesuksesan sebab pendidikan formal cenderung memberi porsi yang lebih besar untuk kecerdasan intelektual tetapi ketika ia memasuki dunia kerja, tempat orang tersebut harus berinteraksi dengan orang lain, pengaruh kecerdasan emosional akan lebih dominan. Biasanya orang yang memiliki IQ tinggi cenderung egois sehingga sukar diajak kerja sama maka orang tersebut akan mendapatkan kesukaran saat menghadapi dunia kerja yang lebih membutuhkan team work dibanding kerja individual. Orang dengan IQ cukup tinggi sulit untuk beradaptasi dengan dunia yang tidak sesuai dengan pandangannya, berbeda dengan individu yang berEQ tinggi, individu ini mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan kerja apapun karena memiliki kemampuan yang lebih dalam menghargai dan bekerja sama dengan yang lain.
Namun ketika orang tersebut dalam puncak kesuksesan dan keberhasilan, bergelimang dengan harta, prestasi dan penghargaan, akan muncul suatu titik balik berupa rasa jenuh dan bosan. Orang tersebut akan menanyakan kembali pada dirinya, apakah hal semua itu perlu bagi dirinya ? mengapa kesuksesan dan keberhasilan, tidak membuat hatinya bahagia ? okelah ketika seseorang mendapatkan prestasi tinggi misalnya dianugerahi Nobel, dia disambut dan dipuja-puja seluruh dunia, saat itu perasaannya dipenuhi oleh rasa senang tetapi untuk berapa lama rasa gembira itu akan hinggap didalam dirinya, dia akan kembli jatuh pada perasaan jenuh karena semua yang diinginkan dan dicita-citakan telah terwujud semuanya, dan menyangka bahwa dengan mencapainya akan memberikan rasa bahagia abadi, tetapi apa yang terjadi ternyata hanya rasa kehampaan yang didapatnya. Dunia serasa berhenti, vitalitas yang dimilikinya semakin hilang dan jika ia tidak memiliki kecerdasan lain ia akan terperosok pada jurang kehampaan yang penuh dengan perasaan depresi. Maka agar kita bisa memaknai hidup ini, saat suatu keberhasilan digapai dan mampu melihat keberhasilan tersebut sebagai suatu proses bukan tujuan hidupnya, diperlukan suatu kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual atau SQ. Didalam otak manusia terdapat suatu titik yang dinamakan god spot, titik ini berhubungan dengan keyakinan kita akan keberadaan tuhan dan dalam god spot bersemayamlah kecerdasan spiritual atau SQ. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat dilihat dari perilaku kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh rasa kebahagiaan dan kegembiraan, ia memandang sekelilingnya bukan sebagai sesuatu yang perlu ditaklukan demi keberhasilannya tetapi lebih sebagai suatu ciptaan yang perlu disyukuri keberadaannya, rasa ego atau ke-aku-annya telah melebur hilang digantikan dengan rasa kebersamaan yang muncul setiap saat. Ia tidak lagi menghiraukan apa yang telah menjadi miliknya dan bukan miliknya, tidak lagi memikirkan mendapatkan apa yang belum ia miliki sebab semuanya yang ada disekelilingnya telah ia miliki. Ia tidak lagi terjebak dalam rasa penyesalannya terhadap masalah di masa lalu, tidak lagi mengkhawatirkan kehidupan di masa depan, tidak lagi terbebani oleh rasa khawatir, takut dan penyesalan tetapi hidup di masa sekarang, saat ini dengan indah dan apa adanya. Hal yang selalu dilakukan oleh orang dengan kecerdasan spiritual tinggi adalah mensyukuri apapun yang ia peroleh ; kegagalan, keberhasilan, sanjungan, makian, penghinaan. Ia telah mendapatkan kedamaian didalam dirinya yang memancar menyebar ke sekelilingnya memberikan rasa kasih sayang bagi semuanya. Seperti bunga yang menyebarkan keharuman bagi dunianya atau seperti matahari yang memancarkan sinar kehidupan, sang bunga dan matahari tidak pernah meminta balas jasa atas apa yang ia berikan, ia hanya memberi dan memberi.
Kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Tuhan paling mulia, ternyata diberikan anugerah yang begitu besarnya. Kemampuan kita sebagai manusia melebihi apa yang dimiliki mahluk lainnya, apalagi kecerdasan yang kita miliki mampu membuat kita menjadi seorang manusia dalam arti sebenarnya. Kita bisa menggapai suatu kecerdasan yang membuat kita menjadi bahagia bila mengetahui password untuk membukanya. Proses untuk mendapatkan kecerdasan ini adalah perjalanan mengenal dirinya sendiri, suatu safari agung menembus bayang-bayang dan topeng-topeng yang kita anggap selama ini sebagai diri yang sejati. Topeng tersebut sepertinya melekat kuat sehingga seakan-akan kita selalu diidentikkan dengan topeng yang kita pakai, topeng itu adalah ego kita, rasa ke-akua-an yang kita miliki menutupi sinar cemerlangnya diri sejati. Ego membuat kita tergantung terhadap apa yang orang lain pandang, kita menjadi begitu malu saat, pakaian yang kita kenakan dikatakan tidak sesuai dengan tubuh , kita menjadi marah saat seseorang mencela, menghina dan memaki kita. Ego menjadikan sesuatu sebagai yang disukai atau yang tidak disukai, ego cenderung untuk melampiaskan keinginan-keinginan kita, memberikan makanan-makanan yang lezat bagi nafsu dan hasrat.

sumber:ekapratania.wordpress.com



Antara IQ dan EQ

Sebuah survei di AS pada 1918 mengenai IQ menemukan “paradoks” yang membahayakan: bagaimana skor IQ anak-anak makin tinggi, namun kecerdasan emosi mereka justru turun. Dan data hasil survei pada 1970 dan 1980 terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi dibanding generasi terdahulu. Mereka tumbuh dalam kesepian dan depresi, gampang marah, sulit diatur, cenderung cemas dan agresif.

Survei tersebut berlanjut dengan penelitian terhadap ratusan ribu pekerja dari level bawah hingga puncak. Dari survei ini ditemukan suatu inti kemampuan pribadi dan sosial yang sama, yang terbukti menjadi kunci utama keberhasilan pekerjaan dan hidup yaitu kecerdasan emosi.


Robert K Cooper PhD mengatakan: “Apa yang mereka tinggalkan di belakang dan acapkali mereka lupakan adalah aspek yang disebut Robert Frost sebagai aspek hati”. Hal ini diperkuat psikolog dari Yale, Robert Stenberg –ahli dalam bidang Succeessful Intelligence—yang mengatakan: “Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk”.

Robert Stenberg juga mengemukakan: “Salah satu sikap paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini adalah bahwa kita tidak boleh, dalam situasi apa pun, memercayai suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan diri sendiri, untuk tidak memedulikan intuisi serta mencari peneguhan dari luar diri kita bagi berbagai hal yang kita perbuat. Kita dikondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu daripada kita dan dapat memberitahu kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri”. (Untuk pendapat Robert S. ini, kelihatannya posting saya rada-rada nyambung nie. Silahkan membaca juga posting ini: Jangan Selalu Ikut Arus - Be An Extraordinary People).

So, dari tulisan cuplikan di atas, kita dapat berkaca. Apakah kita tetap akan menjadikan IQ sebagai “segalanya” bagi kehidupan kita? IQ memang penting bagi kita, namun EQ juga tidak kalah penting perannya dalam kehidupan kita. Mari menghargai semua potensi dari Ilahi ini, sebagai wujud dan tanda syukur kita kepada-Nya.

sumber : Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotient.


Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Potensi besar yang dimiliki manusia, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi adalah kecerdasan spiritual.

Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) mendefinisikan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient ) sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kaya dan mendalam; kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

SQ menjadi landasan yang diperlukan untuk memfungsikan dan mensinergikan IQ dan EQ secara integral, efektif dan menyeluruh. Melalui SQ, pemikiran, perilaku dan perihidup manusia diberi makna dan bermuatan makna spiritual.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient ) menyadarkan kita akan tujuan hidup dan pemaknaan kehidupan yang kita jalani. Bahwa hidup memiliki arah dan tujuan hidup, bahwa setiap kehidupan memiliki pemaknaan yang tidak sekedar makna-makna bersifat duniawi.

Spiritual Quetient (kecerdasan spiritual) memformulasi dirinya melalui value yang terbit lewat suara hati. Secara halus dan subtil, ia menempati ruang di relung hati manusia. Dan suara hati melintasi waktu, tempat, ras, suku bangsa dan agama. Kecerdasan spiritual melintasi batas agama (religion). Meski demikian, pemaknaan yang mendalam dan lurus terhadap agama yang dianut akan menjadi landasan yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya suara hati dalam diri manusia.

Antara Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual

Daniel Goleman, seorang pakar kecerdasan emosi (Emotional Quotient) berpendapat bahwa peningkatan kualitas kecerdasan emosi sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ). Jika kemampuan murni kognitif (IQ) relatif tidak berubah, maka kecakapan emosi dapat dipelajari dan ditingkatkan secara signifikan. Dengan motivasi dan usaha yang benar, kita dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi tersebut.

Kecerdasan emosi ini dapat meningkat, dan dapat terus ditingkatkan sepanjang kita hidup.

Lalu, antara IQ dan EQ, lebih penting mana? Dari sudut pandang saya, saya memilih EQ dulu baru IQ. Secara kondisi normal saja, saya lebih suka berdiskusi dengan orang yang memiliki empati baik, simpati, pribadi yang hangat, bisa memahami dan mau mendengarkan perkataan orang lain, daripada ia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata namun miskin simpati, empati, pribadi yang dingin dan tidak mau memahami/mendengarkan perkataan orang lain. (Sobat sendiri mungkin punya pandangan lain? Silahkan berkomentar).

Namun demikian, pernahkah Anda mengalami hal demikian.
Suatu saat dalam hidup Anda, Anda dipertemukan dengan seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik. Orangnya simpatik, bisa berempati, pribadi yang hangat, mampu memahami orang lain, dan jika berdiskusi, terkesan memahami masalah kita dan mau mendengarkan segala permasalahan kita dengan sungguh-sungguh. Hingga suatu saat, ketika kita benar-benar percaya, ternyata akhirnya kepercayaan kita itu disalahgunakan olehnya?
Salah seorang sahabat saya, pernah mengalami hal demikian. Dan tidak dapat terkatakan betapa dalam rasa kecewanya.

Ini hanya contoh nyata yang bagitu "sederhana" saja, untuk mengatakan bahwa ternyata, kecerdasan emosi (EQ) saja belumlah cukup. Bagaimana kecerdasan emosi bisa disetir untuk hal-hal yang tidak menguntungkan sesama. Pada akhirnya, kita masih membutuhkan satu kecerdasan lagi, kecerdasan tertinggi kita, yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan yang menjadi pedoman, arah, dan tujuan untuk apa dan bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Agar prestasi duniawi yang kita capai, semakin bermakna dan tidak kehilangan arah. Karena selalu diarahkan oleh sang suara hati.

sumber:adeshendra.com


Selasa, 08 November 2011

Spiritual Questions

Materi Training - SQ
Sigit K Prasetyo

























































































Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More