IMAGE-1 IMAGE-2 IMAGE-3 IMAGE-4 IMAGE-5

Minggu, 02 Oktober 2011

Don't Be a Loser

Apa sebenarnya yang di maksud dengan berani? Buat aku pribadi, arti berani bukanlah secara fisik, seperti berani berkelahi, berani melawan dengan tindakan dan kata-kata yang kasar ketika seseorang melukai atau menyakitinya. Tapi berani buatku adalah ketika seseorang berani jujur dengan dirinya sendiri, jujur dengan kata hatinya sendiri (tidak menyangkal), berani membela diri dan berani dalam menghadapi masalah yang di alaminya.


Mungkin kita bisa berbohong kepada orang lain, tapi “sejujurnya” kita tidak akan pernah bisa membohongi diri dan kata hati sendiri. Sehebat apapun kita menyangkalnya, kita tidak akan pernah bisa. Untuk masalah berani menghadapi masalah, rasanya memang butuh keberanian yang besar untuk menyelesaikannya, dan orang-orang yang bisa menghadapi dan menyelesaikannya adalah termasuk oarng-orang yang berani. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Karena banyak orang yang “lebih memilih” menghindarinya daripada menghadapi atau menyelesaikannya. Apakah dengan menghindarinya, masalah itu akan selesai? Pastinya tidak! Justru akan membuat masalah menjadi bertambah rumit dan kecenderungan kesalahpahaman akan semakin besar. Mengapa? Karena tidak adanya komunikasi untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Sedangkan kita semua tahu, komunikasi adalah salah satu kunci yang sangat penting untuk menyelesaikan suatu permasalahan.


Dalam tema kali ini, aku akan mencoba menitikberatkan masalah keberanian dalam menghadapi masalah yang ada kaitannya dengan suatu hubungan. Sering sekali aku melihat dan mendengar, ketika seseorang “di tinggalkan” secara tiba-tiba oleh pasangannya. Hal ini jelas akan membuat dia bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca, orang yang “menghilang” tersebut ingin menjauh karena sesuatu hal. Terkadang mereka tidak tega “meninggalkan” pasangannya karena sesuatu hal tadi. Mereka tidak bisa menyampaikan secara langsung apa yang membuatnya harus meninggalkan pasangannya. Contoh nyata yang aku pernah dengar, ketika keluarganya tiba-tiba menjadi miskin padahal sebelumnya dia berasal dari keluarga berada. Ketika dia menderita penyakit yang sangat parah dan kemungkinan hidupnya tidak akan lama lagi. Dan contoh yang lebih sederhana, ketika dia merasa “tidak nyaman” dengan orang yang sedang dekat dengannya.


Buatku, itu bukanlah suatu alasan untuk mereka “menghilang” dan pergi begitu saja, karena kalau memang itu terjadi, itu menujukkan kalau mereka adalah orang yang tidak berani menghadapi atau menyelesaikan masalah yang di hadapinya. Sepahit dan seburuk apapun kondisi yang di alaminya, alangkah bijaknya apabila dia “memberanikan” diri terbuka terhadap pasangannya dengan berkata sejujur mungkin. Aku hanya menilai, yang mereka lakukan di karenakan “rasa takut” yang terlalu, ketakutan akan di tinggalkan, ketakutan akan di remehkan dan tidak akan di hargai lagi, juga rasa rendah diri dan merasa tidak pantas lagi untuk pasangannya.


Untuk mereka yang pernah “menghilang” tiba-tiba, pernahkan kalian berpikir bagaimana perasaan orang yang kalian tinggalkan? Apakah dengan menghindari, kalian merasa lega? Merasa inilah cara yang terbaik? Merasa bahwa dengan cara ini, mereka tidak akan terlalu sakit hati? Apakah kalian tidak pernah berpikir, bahwa dengan membuat mereka “membenci” mu, itu akan membuat sakit hatinya lebih “ringan” dan akan lebih mudah untuknya melupakan? Kalau kalian berpikir seperti itu, kalian salah besar! Karena pada kenyataanya, orang yang kalian tinggalkan, akan merasa jauh lebih sakit hati dan menderita dari yang kalian bayangkan. Berusahalah lebih berani berterus terang ketika sebuah masalah menimpamu, karena kalian tidak akan pernah tahu kalau pasanganmu akan bisa menerimamu apa adanya, setia menemanimu di saat suka dan duka, bahkan mereka akan menjadi satu-satunya orang yang “mensupport” ketika kalian terjatuh.


Janganlah pesimis dulu, berusahalah melakukannya! Apabila pada akhirnya nanti, pasanganmu tidak bisa menerima “keterpurukanmu”, mungkin dia “belum siap” dengan perubahan itu, Tapi satu hikmah yang bisa kalian dapatkan, mungkin memang dia bukanlah orang yang “tepat” untuk mendampingimu. Hanya saja, kitapun harus bisa menghargai keputusannya dan mungkin memang itulah jalan yang terbaik untuk semuanya. Jadi, mulai saat ini berusahalah lebih berani menghadapinya daripada menghindari, karena kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencobanya.


Don’t be a loser!
By. Shanty Wiryahaspati
http:mrsigit80.blogspot.com



A

Selasa, 27 September 2011

Jangan hancurkan masa depan anak

Mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Aku memang belum pernah melakukannya tapi itulah yang aku tahu dan aku lihat selama ini. Apapun itu, yang jelas pengalaman ini tentunya akan aku jadikan pembelajaran ketika aku mempunyai anak kelak, karena yang aku lihat masih banyak orang tua yang mendidik anak-anaknya, yang menurut mereka itu cara “yang terbaik” tapi justru yang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Itu membuatku menyadari bahwa bukan hal yang mudah mendidik anak dan bukan hal yang bisa di anggap sepele karena dampaknya bisa “merusak dan menghancurkan” masa depan sang anak.

Kita mungkin bisa melihat, semakin modern dan majunya jaman, semakin sulit pulalah orang tua dalam mendidik anak-anaknya, dan sepertinya “cara” mendidik merekapun harus di sesuaikan dengan perkembangan anak-anak sekarang ini. Mengapa demikian? Karena tidak semua “cara didik” mereka sebelumnya bisa di lakukan di jaman sekarang. Salah-salah malah membuat sang anak merasa “tidak di mengerti”. Namun apapun caranya, yang jelas berdasarkan pada agama, itulah yang paling benar.

Selama ini yang aku tahu, cara mendidik orang tua terhadap anaknya cenderung akan “menurun” kepada mereka ketika sudah mempunyai anak. Kalau untuk cara yang baik, tentu itu hal yang sangat bermanfaat, namun apabila cara yang selama ini orang tuanya lakukan kurang baik, alangkah bijaknya apabila sang anak mengambil hikmah dan pembelajaran agar kesalahan yang di lakukan orang tua terhadapnya tidak di alami lagi oleh anak-anaknya kelak.

Sepertinya cara yang lebih cocok dan lebih bijak yaitu dengan memberi contoh. Orang tua harus bisa menjadi contoh atau panutan yang baik untuk anak-anaknya. Bukan dengan menyuruh atau memaksanya melakukan sesuatu tapi hal itu tidak di lakukannya oleh mereka para orang tua. Misalkan mengajarkan anaknya untuk bisa menghargai orang lain, tetapi mereka (orang tua) bersikap semena-mena kepada orang lain. Orang tua mengajarkan untuk berkata-kata yang baik, tapi kenyataannya mereka sering mengatakan hal-hal yang buruk.

Semua orang tua harus menyadari, bahwa anak-anak mereka bukanlah tempat pelampiasan ataupun tempat untuk mereka “bereksperimen”. Mereka bagaikan kertas kosong yang putih yang tidak ada noda sedikitpun. Kalaupun orang tua harus menggoreskan tinta di atasnya, tentulah dengan kata-kata dan harapan yang baik bukan justru merusaknya. Banyak yang tidak menyadari bahwa secara tidak langsung mereka “merusak” anak-anak mereka. Hal ini menyadarkanku bahwa mendidik anak adalah sebuah proses yang tidak ada titik akhirnya, tak akan pernah berhenti sekalipun mereka sudah menikah.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan dalam mendidik anak :

  • Menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak 
  • Mendidiknya menjadi sombong 
  • Membiasakan anak-anak hidup berfoya-foya atau bermewah-mewah 
  • Selalu menuruti dan memenuhi keinginan anak 
  • Tidak mengasihi dan menyayangi mereka, sehingga membuat mereka mencari kasih saying di luar rumah hingga menemukan yang di carinya 
  • Hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja 
  • Membiarkan anak melakukan kesalahan / berperilaku buruk 
  • Tidak memberikan apresiasi ketika anak berbuat dan berperilaku baik 
  • Terlalu banyak melarang anak 
  • Terlalu banyak menuntut anak 
  • Tidak memberikan contoh yang baik kepada anak 
  • Melakukan kekerasan fisik terhadap anak maupun di depan anak 
  • Tidak memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup 
  • Tidak ada kekompakan antara ayah dan ibu dalam mendidik anak 
  • Selalu menilai buruk dan menjelek-jelekan anak 

Semoga kita tidak melakukan kesalahan itu dalam mendidik anak-anak kita, dan semoga ketika kita menjadi orang tua kelak, kita bisa menjadi orang tua yang di banggakan anak-anak kita. Orang tua yang menjadi panutan yang baik untuk mereka.



By. Shanty Wiryahaspati

Referensi :
Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Anak Sehat dan Cerdas


Add caption

Setiap Anak Berhak Memilih Calon Pasangan Hidupnya

Pernahkan kalian merasakan sebuah dilema? Di sudutkan pada posisi harus mengambil keputusan ataupun menentukan sesuatu yang sangat sulit, yang mungkin bisa saja melukai hati orang lain? Hal itu bisa menyangkut pekerjaan, jalan hidup ataupun pilihan hidup. Namun dilema yang sering sekali kita lihat bahkan kita rasakan sendiri yaitu masalah jodoh atau pasangan hidup. Sebenarnya siapa yang punya hak untuk menentukan jodoh kita sebagai anak? Kita semua tahu, kalo Allah sudah menentukan jodoh kita tapi aku merasa Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih, siapa yang akan kita pilih untuk menjadi pasangan hidup kita walaupun pada akhirnya Allah jugalah yang akan menentukan hasil akhirnya. Jodoh itu misteri Allah, tidak seorangpun yang akan tahu.

Kita hanya bisa berusaha mencari yang terbaik, dalam hal ini tentunya yang terbaik menurut agama, bukan menurut nafsu ataupun keegoisan kita sebagai manusia biasa. Kadang aku berpikir, kalau memang kita di berikan “kesempatan” untuk memilih dan menentukan pasangan hidup kita, kenapa selalu ada saja pihak-pihak yang berusaha “ikut campur” dalam masalah ini. Setiap anak yang menghormati dan berbakti kepada orang tua, tentunya sangat berharap kalau orang tua bisa mengerti dan memberikan kepercayaan kepada mereka sebagai anak untuk memilih pasangan hidup. Aku yakin semua orang tua ingin melihat anaknya bahagia dan tidak ingin melihat mereka hidup sengsara.Mencintai adalah memberikan kebebasan kepada orang lain untuk melakukan keinginannya, untuk menjadi dirinya sendiri tanpa kritik-kritik dari kita. Mencintai berarti memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memilih. Namun satu hal yang harus di ingat, bahwa kebahagiaan tidak selalu bisa di ukur dengam materi yang berlimpah dan pendidikan yang tinggi, tapi kebahagiaan hati (batin).

Banyak orang tua yang tidak menyetujui pilihan sang anak, hanya karena “calon” pasangan hidupnya menurut mereka tidak akan bisa membahagiakan anak mereka. Entah karena “kurang” materi, status sosial ataupun pendidikan yang lebih rendah dari sang anak. Mungkin itu yang terbaik menurut versi pihak orang tua, tapi apakah pernah berpikir bagaimana “versi” sang anak itu sendiri? Aku rasa setiap anak sudah cukup dewasa untuk melihat, menilai dan menentukan apakah “calon” pasangannya tersebut itu memang yang terbaik untuknya. Untuk para orang tua, apakah pernah berpikir bagaimana perasaan anak-anak mereka yang harus “mengorbankan” perasaan dan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang tua maupun keutuhan keluarganya? Apakah para orang tua bersedia bertanggung jawab apabila ternyata sang anak tidak bahagia dalam kehidupan barunya? Akan lebih bijak apabila orang tua bisa lebih mengedepankan komunikasi, berbicara dari hati ke hati tentang pilihan sang anak dalam menentukan calan pasangan hidupnya.

Setiap anak mungkin akan bisa mengerti kekhawatiran orang tuanya, apabila sang “calon” pasangan yang di pilih sang anak “terlihat” bersikap kurang baik, tidak bertanggung jawab, berbeda keyakinan dan tidak menghormati orang tua. Gambaran karakter seseorang terlihat dari bagaimana ia berbicara dan memandang orang lain, dari sikap dan posisi tubuhnya, juga dari pancaran mata dan kedekatannya dengan orang lain. Tapi yang selalu membuat aku heran, apabila calon pasangan sang anak kebalikan dari yang tadi mereka khawatirkan (dia pribadi yang baik, mau bertanggung jawab dan berusaha ingin membahagiakan anaknya, juga menghormati orang tua), namun tetap saja pihak orang tua tidak menyetujuinya. Apakah orang tua tidak menyadari bahwa sikapnya tersebut sudah melukai perasaan dan juga menghancurkan harapan sang anak untuk mendapatkan kebahagiannya? Setiap anak berhak untuk bahagia, seperti halnya mereka para orang tua yang ingin bahagia ketika di masa muda mereka mempunyai pilihan untuk pasangan hidupnya sebelum mereka menikah. Berusahalah memposisikan diri di pihak sang anak,merasakan bagaimana sedih dan hancurnya hati mereka, ketika harus “mengorbankan” perasaan dan kebahagiaan yang di impikannya. Berusahalah bersikap lebih bijak dan mengerti ketika pilihan sang anak “tidak sesuai” dengan yang kalian harapkan sebagai pasangan hidup mereka. Selama apa yang mereka pilih bukanlah sesuatu yang buruk, tidak melanggar norma ataupun berniat menyakiti mereka. Ingatlah, mereka sudah dewasa dan punya hak untuk menentukan pilihan dan jalan hidupnya sendiri. Akan semakin bijaklah, apabila semua orang tua bisa menghargai pilihan sang anak, meridhoi dan mendoakan semoga sang anak bahagia di kehidupan barunya.

By. Shanty Wiryahaspati

*Kata Bijak Berbagai Sumber
http://mrsigit80.blogspot.com/

Rabu, 21 September 2011

Hargailah Dirimu Sendiri

Menghargai mempunyai arti yang sangat luas dalam kehidupan kita, bisa berarti menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, menghargai apa yang kita miliki, menghargai apa yang menjadi pilihan dan keputusan orang lain dan masih banyak lagi tentunya. Menghargai orang lain sama artinya dengan menghargai diri sendiri, kenapa? Karena sebelum kita bisa menghargai orang lain, kita harus bisa menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Menerima diri sendiri apa adanya adalah salah satu bentuk dari sikap menghargai diri sendiri.



Terkadang kita bisa menilai sejauh mana seseorang bisa menghargai dirinya sendiri, yaitu dari bagaimana ia berpenampilan, bersikap, berbicara, berpikir dan memperlakukan orang lain. Banyak sekali orang yang merasa dirinya adalah orang yang mempunyai “status sosial” dan pendidikan yang tinggi tapi mereka tidak “menghargai dirinya sendiri”. Kenapa aku mengatakan seperti itu? Karena banyak sekali dari mereka yang tidak bisa menghargai orang lain dan memperlakukan orang lain semena-mena. Entah itu dengan perlakuan (sikap) maupun kata-kata yang menyakitkan. Kadang aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku mereka, karena mereka benar-benar tidak menyadari kalau mereka sedang mempermalukan dirinya sendiri.



Contoh kejadian tadi harus menjadi cerminan untuk kita, apakah pernah kita tidak “menyadari” kalau kita sedang mempermalukan diri sendiri? Kita harus lebih belajar dan berusaha untuk menghargai diri sendiri apabila kita tidak mau di nilai negatif oleh orang lain dan yang lebih parahnya lagi di remehkan orang lain, karena kalau itu sampai terjadi kamulah yang member izin pada dirimu sendiri.Banyak pengalaman nyata yang sering aku lihat tentang perlakuan meremehkan orang lain, salah satunya di dunia kerja, misalkan perusahaan yang tidak bisa menghargai kerja keras dan loyalitas pegawainya dengan memberikan pekerjaan melebihi dari kapasitasnya atau memberikan gaji yang tidak sesuai dengan berat dan tanggung jawab pekerjaan yang di berikan kepadanya. Belum lagi sikap dan kata-kata yang sangat menyakitkan yang “menurunkan” harga diri mereka.



Aku teringat apa yang pernah di katakan pak Mario Teguh, jika anda tidak ingin di remehkan orang lain, jangan membiarkan dirimu di remehkan, anggaplah dirimu lebih besar sehingga kita mempunyai keberanian untuk membela diri. Janganlah berdiam diri, di saat orang lain “meremehkan” kita, karena perlakuannya itu telah menurunkan harga diri kita dan jelas dia tidak menghargai kita sama sekali.Kehilangan wibawa melukai harga diri kita melebihi sekedar melukai perasaan kita, jika kita tidak melawannya, kita membiarkan mereka meyakinkan bahwa kita tidak lebih baik dari yang mereka katakan tentang kita. Harga diri cukup berharga untuk di perjuangkan.



Mulai sekarang marilah sama-sama kita belajar dan berusaha, berhentilah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain dan mulailah menghargai diri sendiri. Kamulah satu-satunya yang dapat menghayati betapa istimewanya dirimu. Kalau kita tidak memiliki kebanggaan atas diri sendiri, tak seorangpun yang akan memberikannya.





By. Shanty Wiryahaspati

*Kata Bijak Berbagi Sumber
http://mrsigit80.blogspot.com/

Kesederhanaan


Kesederhanaan  tidak selalu di identikkan dengan arti serba hemat atau serba kekurangan. Namun makna dari kesederhanaan di sini adalah bijak dalam menggunakan rezeki (harta) yang kita punya dengan tidak hidup bermewah-mewahan dan bijak dalam menjalani hidup dengan lebih mempunyai rasa empati terhadap orang lain ataupun orang di sekitar kita yang memang hidupnya kurang beruntung dari kita.

Kebanyakan orang terkadang menyimpulkan, orang kaya cenderung hidupnya mewah karena secara materi yang mereka lihat di kehidupan nyata. Tapi satu hal yang harus kita ingat, bahwa arti “kaya” yang sebenarnya bukanlah hanya di lihat dari sudut materi saja karena banyak sekali kejadian di mana orang kaya secara materi tapi mempunyai  banyak sekali hutang. Oleh karena itu, janganlah kita merasa iri dengan orang lain yang “terlihat kaya” di mata kita, sedangkan kita tidak tahu apakah ia hidupnya setenang dan sebahagia yang kita pikirkan. Banyak sekali orang kaya yang merasa hidupnya “kosong” padahal kita semua tahu begitu banyak harta yang di milikinya dan justru terkadang mereka sangat iri dengan orang-orang yang hidupnya tidak lebih baik dari dia tapi terlihat sangat tenang dan bahagia.

Seseorang yang membiasakan hidup sederhana dalam kesehariannya, adalah orang yang senantiasa mensyukuri nikmat dan menghargai hidup, juga menghargai orang lain. Kenapa? Karena dia menyadari bahwa semua harta yang di milikinya hanyalah titipan dan juga amanah, dia juga akan bisa menghargai orang lain karena dia merasa Allah memberikan kehidupan yang jauh lebih “beruntung” dari orang lain.

Namun hal yang terpenting, adalah jangan pernah melihat seseorang dari kesederhanaan penampilannya saja, karena bisa saja dia adalah seseorang yang kaya, mungkin bukan kaya hartanya tapi Kaya Hatinya.

By. Shanty Wiryahaspati

http://mrsigit80.blogspot.com/

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More