IMAGE-1 IMAGE-2 IMAGE-3 IMAGE-4 IMAGE-5

Senin, 09 Januari 2012

Papa......Mamah....

Sebuah Tayangan yang wajib Anda lihat...saatnya kita mengerti bahwa tanpa mereka kita bukan siapa-siapa




sumber :pemulihanjiwa.com





Jumat, 30 Desember 2011

Selamat Tahun Baru 2012

Waktu terus berlalu, jam, menit dan detikpun terus bergerak, lembaran demi lembaran telah dilewati. Coretan demi coretan telah memenuhi kehidupan, cerita demi cerita silih berganti, kadang begitu berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna.


Semoga di tahun ini setiap lembaran dan cerita kehidupan akan memiliki makna, berarti dan bermanfaat.

Selamat tahun baru 2012. Semoga tahun ini membawa lebih banyak sukses untuk kita semua.








Semoga Tahun 2012 akan jauh lebih baik dari Tahun-tahun sebelumnya

Jumat, 23 Desember 2011

Kentang Busuk - inspirasi


Seorang guru meminta murid-muridnya membawa satu kantung ke sekolah. Lalu ia meminta setiap anak memasukkan beberapa potong kentang ke dalamnya dengan ketentuan: Satu potong kentang harus mewakili satu orang yang mereka benci, atau satu orang yang belum mereka maafkan, atau satu hal lain yg masih membuat mereka kesal.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang2 itu di setiap potongan kentang yg mewakilinya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, tapi banyak juga yang memiliki kantong yang berat, karena banyaknya potongan kentang yang mereka masukkan ke dalamnya.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Bahkan di rumah pun, mereka harus membawanya ketika makan, tidur, mandi, dan aktivitas apapun. Sang Guru berkorrdinasi dengan para orang tua untuk ikut mengawasi hal ini.

Lama-kelamaan, tentu saja, kentang-kentang mulai membusuk, ada yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Hampir semua anak mengeluh, terutama mereka yang memiliki banyak kentang di dalm kantongnya.

Akhirnya, satu minggu berlalu. Semua anak kembali bertemu dengan Sang Guru.

“Bagaimana Anak-Anak…? Siapa yang masih suka membawa kentang2 itu lebih lama lagi…?” Tanya Sang Guru, yang tentu saja disambut dengan “huuuu…” dan berbagai nada protes dari anak-anak.

“Anak-anakku,” kata Sang Guru, “kalian sudah merasakan, bahwa membawa beban
itu sesungguhnya sangat tidak menyenangkan, apalagi ditambah dengan bau yang makin membusuk.

“Ketika kalian membawa kebencian kepada seseorang atau kalian tidak sudi memaafkan mereka, kalian bawa “dendam” itu sepanjang hidup kalian sebelum kalian memutuskan untuk memaafkannya. Amarah dalam hati kalian itu akan semakin membusuk dan menghantui hidup kalian…”

“Padahal, Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada membawa semua beban itu kemana saja. Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan
dendam yang kita genggam terus menerus.”

“Getir, berat, dan aroma busuk, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.”

”Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian maaf itu sesungguhnya adalah hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah KEBEBASAN.”

”Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati yang bias mematikan Kebaikan-Kebaikan Hidup yang sesungguhnya bias kita dapatkan.”

Anak-anakpun beramai-ramai membuang kentang2nya, lalu mereka saling bersalaman, saling memaafkan, saling berpelukan, dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Guru.

Apakah kita siap membuang kentang-kentang busuk dalam hati kita…??
Tentu…

Bukankah… KITA BISA !!!

Butuhkah Sebuah Alasan Untuk Cinta?

Weekend in Love

WANITA: "Mas, apa yang membuatmu mencintaiku?"

PRIA: "Aku tidak bisa memberitahu alasannya... tapi percayalah, aku benar-benar mencintaimu."

WANITA: "Tuh kan! Kamu sendiri bahkan tidak tahu alasannya ... bagaimana kamu bisa bilang kamu mencintai aku, Mas?"

PRIA: "Aku benar-benar tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu."

WANITA: "Aku lagi gak nanya soal bukti, Mas. Aku hanya ingin mendengar dengan kata2mu sendiri apa alasannya kamu mencintaiku. Kekasih temanku saja bisa mengatakan padanya mengapa dia mencintainya tetapi kenapa kamu tidak?"

PRIA: "Ok .. ok! Ehm ... aku mencintaimu karena… wajahmu yang cantik, suaramu lembut dan menentramkanku, karena kamu juga penuh perhatian, karena senyummu yg manis itu, dan karena setiap sentuhanmu."

Si WANITA merasa sangat bahagia & tersanjung dengan jawaban Sang Kekasih.

Sayangnya, beberapa hari kemudian, si WANITA mengalami sebuah kecelakaan, banyak bagian tubuhnya yang rusak. Dia juga mengalami koma dalam kondisi yg kritis. Si PRIA kemudian meletakkan sebuah surat di sisinya, dan berikut adalah isi suratnya:

"Sayangku, karena wajah cantik dan suara manismulah, aku mencintaimu ... Sekarang apakah wajahmu masih cantik dengan luka2mu itu? Apakah suaramu yg lembut itu masih bisa kudengar?
Tidak! Oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Karena perhatian dan kepedulian kamu, aku suka padamu. Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya padaku, maka aku tidak bisa mencintai kamu.
Karena senyumanmu dan karena sentuhanmu, aku mencintaimu. Sekarang bisakah kamu tersenyum? Bisakah kamu bergerak untuk menyentuhku?
Tidak, oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Jika Cinta memang harus butuh alasan, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencintaimu. Apakah cinta butuh alasan? TIDAK! Oleh karena itu, aku masih mencintaimu dan cintaku tidak memerlukan semua alasan itu. Aku tetap mencintaimu…"

Seingkali, Hal-Hal Terindah dalam Kehidupan kita tidak bisa disaksikan dengan mata , tidak bisa tersentuh oleh indera raga, dan tidak pula dibuktikan… hanya dapat dirasakan dalam hati. Dan hati-lah yang bisa menakarnya.

LAKUKAN bila perlu, sekarang juga. Selagi ada waktu


KISAH INI CUKUP SERING KITA DENGAR & DISAMPAIKAN DALAM BERBAGAI KESEMPATAN. MARILAH KITA ULANG SEKALI LAGI AGAR KITA SELALU INGAT BETAPA PENTINGNYA "Keseimbangan Hidup", KHUSUSNYA ANTARA PEKERJAAN DAN KELUARGA...

MANAKAH YANG SESUNGGUHNYA LEBIH KITA CINTAI? DAN MANAKAH YANG SEHARUSNYA MENDAPAT PERHATIAN UTAMA? TENTUNYA TANPA MENGESAMPINGKAN YANG LAINNYA...


John termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya yang menumpuk dan harus segera terselesaikan. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan Magy, putri kecilnya, pada suatu hari. Malam itu, 3 minggu sebelumnya, John seperti biasa membawa pulang tumpukan pekerjaannya.

Saat John sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, Magy kecil yang baru 2 tahun datang menghampiri dengan sebuah buku cerita baru kesayangannya. Buku cerita anak-anak bergambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, "Papa lihat buku Magy, Pa...”

John menengok kearah Magy dan berkata, "Wah, buku baru ya?"
"Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Papa bacain dong buat Magy..."
"Wah, Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang ya...", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping sang Ayah sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Mama bilang kalo Papa mau bacain cerita buat Magy...".

Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat sibuk. Magy minta Mama saja untuk membacakannya ya..."
"Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."

"Lain kali Magy… sudah sana! Papa sedang banyak kerjaan nih..."
John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih memegang erat bukunya, dan dengan gaya manja anak-anak, sedikit menempelkan tubuh mungilnya di kaki sang Ayah. Lama sekali John mengacuhkan anaknya.

Tiba-tiba Magy mulai lagi "Papa liat donk, Pa… gambarnya bagus sekali dan ceritanya juga bagus! Papa pasti suka".

"Magy, sekali lagi Papa bilang: Lain kali! Magy dengar kan Papa bilang Papa sibuk?" dengan agak keras John membentuk anaknya.

Terkaget dan hampir menangis Magy mulai menarik tubuhnya dari sang Ayah, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali..."

Tapi Magy mendekati lagi Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, kemudian meletakkan bukunya di pangkuan sang Ayah.

"Kapan saja Papa ada waktu ya Pa... Papa tidak usah baca buat Magy, Papa baca buat Papa sendiri aja ya... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar...".

John hanya diam dan menoleh sebentar ketika Magy berjalan dengan langkah-langkah kecilnya meninggalkan sang Ayah.

Kejadian 3 minggu lalu itulah yang sekarang berkemelut dalam diri John. Dia teringat Magy yang penuh pengertian mengalah. Magy kecil yang baru berusia 2 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya: ”... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar..." Kata-kata Magy itu terus terngiang dalam benak John.

Karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari sebuah rak mainan di sudut kamar Magy. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya.
John melupakan pekerjaannya yang dulu amat penting bagi dia. Ia bahkan lupa dengan kemarahan dan kebenciannya pada pemuda ugal-ugalan yang dengan kencang menghantam tubuh putrinya di jalan menuju sekolah.

John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...

Lakukan hal-hal terindah sebisa mungkin untuk orang-orang yang Anda kasihi dengan sisa waktu yang masih Anda miliki, yang sesungguhnya tidak pernah bisa Anda ketahui seberapa lama lagi....... sebelum segalanya terlambat dan tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan untuk menggantikannya.

Selamat Berakhir Pekan dengan KELUARGA TERCINTA... Keluarga Terbaik yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita semua...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More