IMAGE-1 IMAGE-2 IMAGE-3 IMAGE-4 IMAGE-5

Kamis, 15 Desember 2011

Delapan Tanda Kecerdasan Spiritual

Orang yang memiliki kesehatan fisik dapat dilihat dari kondisi kesehatan fisiknya, kecekatan, keluwesan fisik, kekuatan dan daya tahan(endurance) fisiknya.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dapat dilihat dari sikap, temperamen, dan perilakunya, seperti sikap gembira, bahagia, ceria, optimis, memiliki keberanian, menghargai orang lain, pandai membawa diri, dan sebagainya.

Orang yang memiliki kecerdasan mental intelektual tinggi dapat dilihat dari ilmu pengetahuan dan ketrampilan atau keahlian yang dimilikinya, kecepatan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, moralitas yang baik, apresiasi seni yang baik, dan sebaginya.

Bagaimana dengan orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi? Berikut ini adalah tanda-tanda nya.

Fleksibel

Evolusi Spiritual

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi di tandai dengan sikap hidupnya yang fleksibel atau luwes. Orang ini dapat membawa diri dan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang dihadapi, tidak kaku atau memaksa kehendak . Ibarat air, dapat menyesuaikan diri dengan bentuk wadahnya. Demikian pula orang ini mudah mengalah . Dengan demikian dapat menerima berbagai keadaan.

Kemampuan Refleksi Tinggi

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi, memiliki kemampuan refleksi yang tinggi. Dia cenderung bertanya ‘mengapa” atau “bagaimana seandainya” sebagai kelanjutan “apa” dan “bagaimana”. Orang ini juga suka bertanya atau merenungkan hal-hal fundamental: dari mana asalnya manusia ini dan kemana arah hidup manusia; dari mana alam semesta ini; mengapa ada takdir dan nasih; dan sebagainya. Mereka juga memiliki kemampuan yang tinggi pula dalam menganalisis persoalan rumit dan persoalan metafisika.

Kesadaran diri dan lingkungan tinggi

Kesadaran diri tinggi berarti telah mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia telah mampu mengendalikan dirinya, misalnya mengendalikan emosi dan dorongan-dorongan lainya. Dengan mengenal dirinya,maka dia juga mengenal orang lain, mampu membaca maksud dan keinginan orang lain.

Kesadaran lingkungan tinggi mencakup kepedulian terhadap sesama, persoalan hidup yang dihadapi bersama, dan juga peduli terhadap lingkungan alam, seperti kecintaan terhadap flora dan fauna.

Kemampuan Kontemplasi Tinggi

Orang memilki kecerdasan spiritual tinggi di tandain dengan kemampuan kontemplasi yang tinggi , yaitu: kemampuan mendapat inspirasi dari berbagai hal; kemampuan menyampaikan nilai dan makna kepada orang lain(memberi inspirasi); mengamati berbagai hal untuk menarik hikmahnya atau mendapat inspirasi; memiliki kreatititas tinggi dan kemampuan inovasi yang berasal dari inspirasi yang di dapatnya.

Berpikir Secara Holistik

Berpikir secara holistic berarti berpikir secara menyeluruh, mengkaitkan berbagai hal yang berbeda-beda. Berpikir secara sistem, tidak terkotak-kotak atau tersegmentasi.

Dengan berpikir secara holistik ini maka terlihat hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Dia juga menghargai perbedaan-perbedaan dan mampu bersinergi. Dia berpikir bahwa segala sesuatu di alam ini adalah satu kesatuan sistem yang besar, dimana komponen-komponennya saling mendukung.

Berani Menghadapi dan Memanfaatkan Penderitaan

Segala kesulitan hidup merupakan tempaan atau ujian untuk meningkatkan kesadaran diri seseorang. Untuk belajar melepaskan kelekatan duniawi maka seseorang misalnya harus mengalami kehilangan barang, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, jabatan , dan sebagainya.

Hendaknya kita dapat mengambil hikmah yang positif dari semua kejadian yang kita alami. Bagaimanapun mula-mula kita merasa sakithati kehilangan apa yang kita miliki. Namun dari situ kita juga belajar pasrah atau menerima kejadian yang telah kita alami.

Berani Melawan Arus dan Tradisi.

Ada kebijaksanaan yang mengatakan, sebaiknya kita hidup mengalir seperti air. Ikuti sajalah kemana arus membawa kita. Namun di sini kita di tantang untuk melawan arus jika dibutuhkan. Para nabi pada umumnya adalah orang yang melawan arus dan merombak tradisi masyarakatnya. Meskipun untuk itu harus menghadapi perlawanan dari orang-orang yang ingin mempertahankan tradisi itu.

Tradisi yang buruk saat ini sedang terjadi di tengah bangsa Indonesia, yaitu tradisi korupsi. Betapa banyak pegawai yang korupsi, mulai dari tingkat atas hingga bawah. Tidak hanya di lingkungan kantor pemerintah, juga di lingkungan perusahaan swasta. Korupsi jelas menyebabkan ambruknya tatanan masyarakat kita. Maka beranikah kita melawan arus hidup di tengah masyarakat yang korup?

Kita di tantang untuk menjadi seperti bunga teratai, meskipun hidup di atas Lumpur, tetapi bisa menampilkan keindahannya, tanpa tercemar oleh Lumpur tenpat hidupnya.

Sesedikit Mungkin Menimbulkan Kerusakan.

Pada saat ini kita sering mendengar mengenai berbagai bencana alam dan musibah yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Banyak bencana alam yang terjadi karena ulah manusia. Misalnya:
Penggunaan bahan bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan efek rumah kaca sehingga bumi semakin panas dan es kutub mencair , menaikkan tingkat permukaan air laut, dan menenggelamkan daratan yang rendah.
Penebangan hutan yang tidak terkendali dapat menyebabkan banjir local dan perubahan iklim dunia.

sumber:kabarsehat.com




Kuantum Spiritual Quotient : Cara Praktis Menggapai SQ Tinggi

Setiap mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi suatu kecerdasan, biasanya kecerdasan yang dimiliki oleh semua mahluk yang hidup dibumi ini adalah kecerdasan untuk tetap bertahan hidup, cara bagaimana seorang mahluk serta generasinya agar dapat terus survive dengan melakukan adaptasi dan evolusi. Rasa aman adalah implementasi dari kecerdasan primitif ini, terhindar dari bahaya yang berupa pemangsa maupun kekejaman alam merupakan akibat dari penggunaan quotient. Semakin tinggi tingkat kerumitan suatu mahluk diciptakan maka anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan juga semakin tinggi, dan manusialah mahluk yang diciptakan dengan kecerdasan yang paling tinggi, jika dilihat dari fisik otak , kemampuan otak manusia meliputi kecerdasan reptil atau batang otak, kecerdasan mamalia atau sistem limbik dan kecerdasan manusia atau neokortek yang membedakan dengan mahluk lainnya.
Fungsi dari batang otak atau otak reptil adalah perilaku yang berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies dengan memperhatikan pada ketersediaan makanan, tempat tinggal dan keberlangsungan reproduksi. Keaadaan bahaya atau gawat membangkitkan otak reptil untuk memutuskan menghadapinya atau menghindarinya. Disekeliling otak reptil terdapat sistem limbik yang cukup luas dan kompleks, sistem limbik dimiliki seluruhnya oleh hewan mamalia, fungsinya menyimpan emosi dan bersifat kognitif, sistem limbik menyimpan perasaan, pengalaman, memori dan kemampuan belajar pada mamalia. Sistem limbik merupakan panel kontrol utama menggunakan informasi yang disampaikan oleh panca indera manusia, kemudian informasi ini disampaikan ke bagian neokortek yang terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, fungsi bagian ini adalah mengatur pesan-pesan yang disampaikan oleh sistem limbik yang dapat berupa penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan dan lain-lain. Jadi sebenarnya yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah adanya neokortek dan disinilah kecerdasan manusia : IQ, EQ dan SQ berasal.
Pada mulanya, kecerdasan manusia hanya diukur dari tingkat kecerdasan intelektualnya atau IQ, IQ seorang manusia dapat ditempatkan pada tingkat-tingkat tertentu ; dibawah rata-rata, rata-rata, diatas rata-rata dan genius. Pemeringkatan ini berdasarkan hasil tes yang dilakukan saat, seseorang menyelesaikan suatu uji IQ. Ketika orang tersebut menganggap serius tes yang akan dihadapinya, akan mendapatkan hasil yang berbeda saat orang tersebut menganggap uji IQ sebagai suatu permainan belaka, karena ternyata tingkat emosi seseorang juga berpengaruh besar pada hasil uji tersebut. Dalam keadaan tertekan membuat seseorang cenderung mendapatkan hasil IQ yang lebih rendah dibandingkan jika ia menganggap tes IQ hanya main-main. Dari hasil pengamatan ini, ternyata IQ bukanlah satu-satunya patokan mengukur kecerdasan manusia, ada kecerdasan lain yang juga mempengaruhi. Kemudian timbulah konsep kecerdasan emosional atau EQ yaitu kecerdasan yang muncul dan dipengaruhi oleh nilai perasaan dan emosi kita, dan hal yang lebih mencengangkan adalah kecerdasan emosional ternyata lebih mendominasi dan mempengaruhi kehidupan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual. Dari hasil riset yang dilakukan oleh para ahli psikologi didapat bukti ilmiah : keberhasilan hidup seseorang yang diukur dari tingkat kesuksesan dan kekayaan ternyata disebabkan oleh tingkat EQ orang tersebut, bukan dari kecerdasan intelektualnya. Kecerdasan intelektual hanya menjadi pengantar bagi keberhasilan seseorang yang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Jadi orang yang memiliki IQ tinggi belum menjamin keberhasilan orang tersebut, bisa jadi di bagian pendidikan formal seperti sekolah, ia akan mendapatkan kesuksesan sebab pendidikan formal cenderung memberi porsi yang lebih besar untuk kecerdasan intelektual tetapi ketika ia memasuki dunia kerja, tempat orang tersebut harus berinteraksi dengan orang lain, pengaruh kecerdasan emosional akan lebih dominan. Biasanya orang yang memiliki IQ tinggi cenderung egois sehingga sukar diajak kerja sama maka orang tersebut akan mendapatkan kesukaran saat menghadapi dunia kerja yang lebih membutuhkan team work dibanding kerja individual. Orang dengan IQ cukup tinggi sulit untuk beradaptasi dengan dunia yang tidak sesuai dengan pandangannya, berbeda dengan individu yang berEQ tinggi, individu ini mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan kerja apapun karena memiliki kemampuan yang lebih dalam menghargai dan bekerja sama dengan yang lain.
Namun ketika orang tersebut dalam puncak kesuksesan dan keberhasilan, bergelimang dengan harta, prestasi dan penghargaan, akan muncul suatu titik balik berupa rasa jenuh dan bosan. Orang tersebut akan menanyakan kembali pada dirinya, apakah hal semua itu perlu bagi dirinya ? mengapa kesuksesan dan keberhasilan, tidak membuat hatinya bahagia ? okelah ketika seseorang mendapatkan prestasi tinggi misalnya dianugerahi Nobel, dia disambut dan dipuja-puja seluruh dunia, saat itu perasaannya dipenuhi oleh rasa senang tetapi untuk berapa lama rasa gembira itu akan hinggap didalam dirinya, dia akan kembli jatuh pada perasaan jenuh karena semua yang diinginkan dan dicita-citakan telah terwujud semuanya, dan menyangka bahwa dengan mencapainya akan memberikan rasa bahagia abadi, tetapi apa yang terjadi ternyata hanya rasa kehampaan yang didapatnya. Dunia serasa berhenti, vitalitas yang dimilikinya semakin hilang dan jika ia tidak memiliki kecerdasan lain ia akan terperosok pada jurang kehampaan yang penuh dengan perasaan depresi. Maka agar kita bisa memaknai hidup ini, saat suatu keberhasilan digapai dan mampu melihat keberhasilan tersebut sebagai suatu proses bukan tujuan hidupnya, diperlukan suatu kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual atau SQ. Didalam otak manusia terdapat suatu titik yang dinamakan god spot, titik ini berhubungan dengan keyakinan kita akan keberadaan tuhan dan dalam god spot bersemayamlah kecerdasan spiritual atau SQ. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat dilihat dari perilaku kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh rasa kebahagiaan dan kegembiraan, ia memandang sekelilingnya bukan sebagai sesuatu yang perlu ditaklukan demi keberhasilannya tetapi lebih sebagai suatu ciptaan yang perlu disyukuri keberadaannya, rasa ego atau ke-aku-annya telah melebur hilang digantikan dengan rasa kebersamaan yang muncul setiap saat. Ia tidak lagi menghiraukan apa yang telah menjadi miliknya dan bukan miliknya, tidak lagi memikirkan mendapatkan apa yang belum ia miliki sebab semuanya yang ada disekelilingnya telah ia miliki. Ia tidak lagi terjebak dalam rasa penyesalannya terhadap masalah di masa lalu, tidak lagi mengkhawatirkan kehidupan di masa depan, tidak lagi terbebani oleh rasa khawatir, takut dan penyesalan tetapi hidup di masa sekarang, saat ini dengan indah dan apa adanya. Hal yang selalu dilakukan oleh orang dengan kecerdasan spiritual tinggi adalah mensyukuri apapun yang ia peroleh ; kegagalan, keberhasilan, sanjungan, makian, penghinaan. Ia telah mendapatkan kedamaian didalam dirinya yang memancar menyebar ke sekelilingnya memberikan rasa kasih sayang bagi semuanya. Seperti bunga yang menyebarkan keharuman bagi dunianya atau seperti matahari yang memancarkan sinar kehidupan, sang bunga dan matahari tidak pernah meminta balas jasa atas apa yang ia berikan, ia hanya memberi dan memberi.
Kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Tuhan paling mulia, ternyata diberikan anugerah yang begitu besarnya. Kemampuan kita sebagai manusia melebihi apa yang dimiliki mahluk lainnya, apalagi kecerdasan yang kita miliki mampu membuat kita menjadi seorang manusia dalam arti sebenarnya. Kita bisa menggapai suatu kecerdasan yang membuat kita menjadi bahagia bila mengetahui password untuk membukanya. Proses untuk mendapatkan kecerdasan ini adalah perjalanan mengenal dirinya sendiri, suatu safari agung menembus bayang-bayang dan topeng-topeng yang kita anggap selama ini sebagai diri yang sejati. Topeng tersebut sepertinya melekat kuat sehingga seakan-akan kita selalu diidentikkan dengan topeng yang kita pakai, topeng itu adalah ego kita, rasa ke-akua-an yang kita miliki menutupi sinar cemerlangnya diri sejati. Ego membuat kita tergantung terhadap apa yang orang lain pandang, kita menjadi begitu malu saat, pakaian yang kita kenakan dikatakan tidak sesuai dengan tubuh , kita menjadi marah saat seseorang mencela, menghina dan memaki kita. Ego menjadikan sesuatu sebagai yang disukai atau yang tidak disukai, ego cenderung untuk melampiaskan keinginan-keinginan kita, memberikan makanan-makanan yang lezat bagi nafsu dan hasrat.

sumber:ekapratania.wordpress.com



Antara IQ dan EQ

Sebuah survei di AS pada 1918 mengenai IQ menemukan “paradoks” yang membahayakan: bagaimana skor IQ anak-anak makin tinggi, namun kecerdasan emosi mereka justru turun. Dan data hasil survei pada 1970 dan 1980 terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi dibanding generasi terdahulu. Mereka tumbuh dalam kesepian dan depresi, gampang marah, sulit diatur, cenderung cemas dan agresif.

Survei tersebut berlanjut dengan penelitian terhadap ratusan ribu pekerja dari level bawah hingga puncak. Dari survei ini ditemukan suatu inti kemampuan pribadi dan sosial yang sama, yang terbukti menjadi kunci utama keberhasilan pekerjaan dan hidup yaitu kecerdasan emosi.


Robert K Cooper PhD mengatakan: “Apa yang mereka tinggalkan di belakang dan acapkali mereka lupakan adalah aspek yang disebut Robert Frost sebagai aspek hati”. Hal ini diperkuat psikolog dari Yale, Robert Stenberg –ahli dalam bidang Succeessful Intelligence—yang mengatakan: “Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk”.

Robert Stenberg juga mengemukakan: “Salah satu sikap paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini adalah bahwa kita tidak boleh, dalam situasi apa pun, memercayai suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan diri sendiri, untuk tidak memedulikan intuisi serta mencari peneguhan dari luar diri kita bagi berbagai hal yang kita perbuat. Kita dikondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu daripada kita dan dapat memberitahu kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri”. (Untuk pendapat Robert S. ini, kelihatannya posting saya rada-rada nyambung nie. Silahkan membaca juga posting ini: Jangan Selalu Ikut Arus - Be An Extraordinary People).

So, dari tulisan cuplikan di atas, kita dapat berkaca. Apakah kita tetap akan menjadikan IQ sebagai “segalanya” bagi kehidupan kita? IQ memang penting bagi kita, namun EQ juga tidak kalah penting perannya dalam kehidupan kita. Mari menghargai semua potensi dari Ilahi ini, sebagai wujud dan tanda syukur kita kepada-Nya.

sumber : Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotient.


Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Potensi besar yang dimiliki manusia, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi adalah kecerdasan spiritual.

Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) mendefinisikan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient ) sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kaya dan mendalam; kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

SQ menjadi landasan yang diperlukan untuk memfungsikan dan mensinergikan IQ dan EQ secara integral, efektif dan menyeluruh. Melalui SQ, pemikiran, perilaku dan perihidup manusia diberi makna dan bermuatan makna spiritual.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient ) menyadarkan kita akan tujuan hidup dan pemaknaan kehidupan yang kita jalani. Bahwa hidup memiliki arah dan tujuan hidup, bahwa setiap kehidupan memiliki pemaknaan yang tidak sekedar makna-makna bersifat duniawi.

Spiritual Quetient (kecerdasan spiritual) memformulasi dirinya melalui value yang terbit lewat suara hati. Secara halus dan subtil, ia menempati ruang di relung hati manusia. Dan suara hati melintasi waktu, tempat, ras, suku bangsa dan agama. Kecerdasan spiritual melintasi batas agama (religion). Meski demikian, pemaknaan yang mendalam dan lurus terhadap agama yang dianut akan menjadi landasan yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya suara hati dalam diri manusia.

Antara Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual

Daniel Goleman, seorang pakar kecerdasan emosi (Emotional Quotient) berpendapat bahwa peningkatan kualitas kecerdasan emosi sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ). Jika kemampuan murni kognitif (IQ) relatif tidak berubah, maka kecakapan emosi dapat dipelajari dan ditingkatkan secara signifikan. Dengan motivasi dan usaha yang benar, kita dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi tersebut.

Kecerdasan emosi ini dapat meningkat, dan dapat terus ditingkatkan sepanjang kita hidup.

Lalu, antara IQ dan EQ, lebih penting mana? Dari sudut pandang saya, saya memilih EQ dulu baru IQ. Secara kondisi normal saja, saya lebih suka berdiskusi dengan orang yang memiliki empati baik, simpati, pribadi yang hangat, bisa memahami dan mau mendengarkan perkataan orang lain, daripada ia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata namun miskin simpati, empati, pribadi yang dingin dan tidak mau memahami/mendengarkan perkataan orang lain. (Sobat sendiri mungkin punya pandangan lain? Silahkan berkomentar).

Namun demikian, pernahkah Anda mengalami hal demikian.
Suatu saat dalam hidup Anda, Anda dipertemukan dengan seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik. Orangnya simpatik, bisa berempati, pribadi yang hangat, mampu memahami orang lain, dan jika berdiskusi, terkesan memahami masalah kita dan mau mendengarkan segala permasalahan kita dengan sungguh-sungguh. Hingga suatu saat, ketika kita benar-benar percaya, ternyata akhirnya kepercayaan kita itu disalahgunakan olehnya?
Salah seorang sahabat saya, pernah mengalami hal demikian. Dan tidak dapat terkatakan betapa dalam rasa kecewanya.

Ini hanya contoh nyata yang bagitu "sederhana" saja, untuk mengatakan bahwa ternyata, kecerdasan emosi (EQ) saja belumlah cukup. Bagaimana kecerdasan emosi bisa disetir untuk hal-hal yang tidak menguntungkan sesama. Pada akhirnya, kita masih membutuhkan satu kecerdasan lagi, kecerdasan tertinggi kita, yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan yang menjadi pedoman, arah, dan tujuan untuk apa dan bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Agar prestasi duniawi yang kita capai, semakin bermakna dan tidak kehilangan arah. Karena selalu diarahkan oleh sang suara hati.

sumber:adeshendra.com


Minggu, 11 Desember 2011

Endang Setyadi: Ibu yang Luar Biasa

Barangkali, jika Nancy Matthews Elliott menerima saja pernyataan guru anaknya yang mengatakan si anak berotak udang, mungkin hari ini tak kan ada lampu pijar yang menerangi dunia. Memang, dalam sejarah terungkap bahwa pencipta lampu pijar, Thomas Alfa Edison, dicap sebagai anak yang bodoh oleh gurunya.

Saat itu, Nancy-ibunda Edison-sangat marah dan menariknya keluar sekolah. Selanjutnya, Nancy sendiri yang mengajar Edison."Ibuku yang membentukku. Ia begitu setia, memiliki keyakinan pada diriku, dan aku merasa aku memiliki seseorang untuk kuperjuangkan dalam hidup, seseorang yang tidak boleh kukecewakan," sebut Edison dalam sebuah catatan.

Ibu Edison, yang juga seorang guru, kemudian memberikan banyak pelajaran yang ternyata diserap dengan mudah oleh Edison. Ia juga melahap habis beberapa buku ilmiah seperti karya dari R.G. Parker's yang berjudul School of Natural Philosophy dan The Cooper Union. Dari sanalah, ia kemudian gemar melakukan berbagai macam percobaan yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi tokoh dunia dengan seribu lebih inovasi.

Nyaris mirip dengan kisah sang ibu dalam mendorong anaknya agar tetap jadi "orang", Endang Setyati juga mengalami problematika yang tak kalah peliknya-bahkan-mungkin lebih parah. Anaknya-Habibie Afsyah-buah cintanya dengan duda beranak tujuh, Nasori Sugiyanto, sejak lahir mengidap penyakit langka, yang menyerang otaknya hingga lumpuh permanen. "Sejak lahir, fungsi syarafnya terus menurun dan bahkan diperkirakan usianya tidak panjang," kisah Endang tentang anaknya.

Namun, menurut perempuan berjilbab ini, "Anak adalah amanah dari Sang Pencipta, karena itu, apa pun kondisi anak, saya berusaha memberikan yang terbaik."

Mendengar pernyataan itu, sang anak pun menimpali dengan ketulusan, "Terima kasih yang terdalam untuk Mama, yang dengan sabar dan kasih sayang merawat saya yang memiliki keterbatasan. Saya sangat bersyukur dilahirkan melalui rahim seorang Ibu, Endang Setyati."



Ibu Endang, Pak Nasori, dan Habibie

Yang istimewa dari cara Endang mendidik adalah perlakuannya pada Habibie. Meski memiliki keterbatasan fisik-bahkan kini hanya tinggal bisa menggerakkan satu jari-Endang menyekolahkanya di sekolah biasa, bukan sekolah luar biasa. Bahkan, beberapa temannya yang tumbuh normal masih sering main ke rumah Habibie untuk sekadar bercanda atau bermain game. "Habibie itu meski hanya main dengan satu jari, entah bagaimana kalau main game selalu menang dari teman-temannya," ungkap Endang.

"Selain hobi main game, ia juga hobi internet-an sedari SMP. Mungkin, karena keterbatasannya itu, ia awalnya menghabiskan banyak waktu hanya dengan main game dan internet."

Keprihatian Endang akan masa depan Habibie membuatnya berpikir, "Apa ya yang bisa dilakukan Habibie supaya besok dia tidak merepotkan orang lain dan bisa mandiri?"

Akhirnya Endang mulai menemukan titik terang sekitar pertengahan tahun 2006. "Saat itu ada penawaran pelatihaninternet marketing. Saya pikir, itu mungkin tepat buat anak saya karena memang dia kan sudah sejak lama hobinya main internet," terang Endang.

Maka, Endang pun memasukkan Habibie untuk ikut pelatihan internet marketing untuk belajar dari salah satu pakarinternet marketing berbasis amazon.com, Mr Fabian Lim. Sayang, karena berbahasa Inggris-meski dibantu dengan penerjemah-Habibie pada awalnya belum terlalu tertarik dengan program tersebut. "Saya lantas bilang, kalau kamu dewasa nanti, kamu tak bisa mengandalkan orang lain terus. Kamu harus jadi orang yang bisa mama banggakan."

Demi masa depan anak, Endang tak ragu untuk sedikit memaksa Habibie. Justru karena punya kelemahan itulah, ia merasa Habibie harus didorong lebih keras. "Waktu itu, karena pelatihan pertama, hasilnya belum maksimal, karena memang yang diberikan hanya dasar-dasarnya. Saya menyuruh Habibie untuk ikut kelas lanjutannya. Mahal ndak apa-apa, yang penting ada ilmu yang bermanfaat. Sayang, kala itu Habibie sempat menolak," kisah Endang.

"Saya lantas tegaskan pada Habibie, kamu syaraf boleh melemah, tapi semangat tidak boleh lemah. Mama sudah pensiun sementara biaya internet kamu itu besar. Kamu harus ikut pelatihan lanjutan ini, jadi kamu main internet itu nggak sia-sia," ujar Endang.

Akhirnya, setelah dipaksa Endang, Habibie mengikuti Asia Internet Academy untuk memperdalam ilmu internet marketing-nya. Ternyata, feeling Endang tepat. Hobi Habibie akhirnya menghasilkan juga. "Setelah lebih memahami pelatihan dari Mr Lim, Habibie waktu praktik untuk pertama kali ia mendapat kiriman uang 120 dolar AS. Itu senangnya bukan main. Ternyata, apa yang dilakukannya selama ini ada hasilnya juga. Maka, sejak itu dia makin intens main di internet marketing. Akhirnya, di bulan Desember 2008, Habibie sudah bisa menghasilkan uang 5986 dolar AS. Itulah yang membuat kepercayaan dirinya makin tumbuh dan dia makin yakin bisa menghasilkan dari bisnis online itu," ungkap Endang sembari menunjukkan setumpuk print-out email yang menunjukkan penghasilan Habibie.


Ibu Endang dan Habibie, saat mengikuti seminar Bp. Andrie Wongso pada Nov. lalu, "The Power of Harmony"

Dengan hasil yang diperolehnya, Endang terus mendorong agar Habibie makin menekuni bidang tersebut. Ia kemudian mengikutkan Habibie ke berbagai kursus lanjutan. "Salah satunya supaya lebih paham saya ikutkan dia ke kursus dari Pak Suwandi Chow. Ini pelatihan train for trainers." Selanjutnya, the rest is history, selebihnya adalah kisah sukses Habibie yang terus dibimbing oleh ibunya.

Mutiara yang tergolek lemah tertutup pasir di lautan itu kini mampu berkilap berkat sentuhan dan ketegasan seorang ibu terhadap anaknya yang punya kelemahan. Berkat kegigihan Endang menemukan "profesi" yang pas untuk putranya, kini kelemahan itu hanya tinggal menjadi predikat. Kerusakan syaraf yang diderita berkat dorongan Endang, kini berubah jadi semangat menggebu untuk meraih hasil maksimal.

"Puji syukur Allah telah mengabulkan permintaan saya dan memberikan kesempatan pada saya dan Habibie bisa menikmati jerih payah dan perjuangan yang tidak kenal menyerah. Indah akan datang pada saatnya jika Allah menghendaki. Dan, inilah saat-saat indah buat saya dan Habibie, yakni bahwa takdir Allah adalah yang terbaik untuk kami. Harapan saya semoga ibu-ibu termotivasi pada prestasi dan kondisi Habibie dan lebih menyayangi putra-putrinya dan ikhlas berjuang untuk sukses keluarganya." Semoga!


tag:andriewongso

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More