Minggu, 02 Oktober 2011

Don't Be a Loser

Apa sebenarnya yang di maksud dengan berani? Buat aku pribadi, arti berani bukanlah secara fisik, seperti berani berkelahi, berani melawan dengan tindakan dan kata-kata yang kasar ketika seseorang melukai atau menyakitinya. Tapi berani buatku adalah ketika seseorang berani jujur dengan dirinya sendiri, jujur dengan kata hatinya sendiri (tidak menyangkal), berani membela diri dan berani dalam menghadapi masalah yang di alaminya.


Mungkin kita bisa berbohong kepada orang lain, tapi “sejujurnya” kita tidak akan pernah bisa membohongi diri dan kata hati sendiri. Sehebat apapun kita menyangkalnya, kita tidak akan pernah bisa. Untuk masalah berani menghadapi masalah, rasanya memang butuh keberanian yang besar untuk menyelesaikannya, dan orang-orang yang bisa menghadapi dan menyelesaikannya adalah termasuk oarng-orang yang berani. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Karena banyak orang yang “lebih memilih” menghindarinya daripada menghadapi atau menyelesaikannya. Apakah dengan menghindarinya, masalah itu akan selesai? Pastinya tidak! Justru akan membuat masalah menjadi bertambah rumit dan kecenderungan kesalahpahaman akan semakin besar. Mengapa? Karena tidak adanya komunikasi untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Sedangkan kita semua tahu, komunikasi adalah salah satu kunci yang sangat penting untuk menyelesaikan suatu permasalahan.


Dalam tema kali ini, aku akan mencoba menitikberatkan masalah keberanian dalam menghadapi masalah yang ada kaitannya dengan suatu hubungan. Sering sekali aku melihat dan mendengar, ketika seseorang “di tinggalkan” secara tiba-tiba oleh pasangannya. Hal ini jelas akan membuat dia bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca, orang yang “menghilang” tersebut ingin menjauh karena sesuatu hal. Terkadang mereka tidak tega “meninggalkan” pasangannya karena sesuatu hal tadi. Mereka tidak bisa menyampaikan secara langsung apa yang membuatnya harus meninggalkan pasangannya. Contoh nyata yang aku pernah dengar, ketika keluarganya tiba-tiba menjadi miskin padahal sebelumnya dia berasal dari keluarga berada. Ketika dia menderita penyakit yang sangat parah dan kemungkinan hidupnya tidak akan lama lagi. Dan contoh yang lebih sederhana, ketika dia merasa “tidak nyaman” dengan orang yang sedang dekat dengannya.


Buatku, itu bukanlah suatu alasan untuk mereka “menghilang” dan pergi begitu saja, karena kalau memang itu terjadi, itu menujukkan kalau mereka adalah orang yang tidak berani menghadapi atau menyelesaikan masalah yang di hadapinya. Sepahit dan seburuk apapun kondisi yang di alaminya, alangkah bijaknya apabila dia “memberanikan” diri terbuka terhadap pasangannya dengan berkata sejujur mungkin. Aku hanya menilai, yang mereka lakukan di karenakan “rasa takut” yang terlalu, ketakutan akan di tinggalkan, ketakutan akan di remehkan dan tidak akan di hargai lagi, juga rasa rendah diri dan merasa tidak pantas lagi untuk pasangannya.


Untuk mereka yang pernah “menghilang” tiba-tiba, pernahkan kalian berpikir bagaimana perasaan orang yang kalian tinggalkan? Apakah dengan menghindari, kalian merasa lega? Merasa inilah cara yang terbaik? Merasa bahwa dengan cara ini, mereka tidak akan terlalu sakit hati? Apakah kalian tidak pernah berpikir, bahwa dengan membuat mereka “membenci” mu, itu akan membuat sakit hatinya lebih “ringan” dan akan lebih mudah untuknya melupakan? Kalau kalian berpikir seperti itu, kalian salah besar! Karena pada kenyataanya, orang yang kalian tinggalkan, akan merasa jauh lebih sakit hati dan menderita dari yang kalian bayangkan. Berusahalah lebih berani berterus terang ketika sebuah masalah menimpamu, karena kalian tidak akan pernah tahu kalau pasanganmu akan bisa menerimamu apa adanya, setia menemanimu di saat suka dan duka, bahkan mereka akan menjadi satu-satunya orang yang “mensupport” ketika kalian terjatuh.


Janganlah pesimis dulu, berusahalah melakukannya! Apabila pada akhirnya nanti, pasanganmu tidak bisa menerima “keterpurukanmu”, mungkin dia “belum siap” dengan perubahan itu, Tapi satu hikmah yang bisa kalian dapatkan, mungkin memang dia bukanlah orang yang “tepat” untuk mendampingimu. Hanya saja, kitapun harus bisa menghargai keputusannya dan mungkin memang itulah jalan yang terbaik untuk semuanya. Jadi, mulai saat ini berusahalah lebih berani menghadapinya daripada menghindari, karena kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencobanya.


Don’t be a loser!
By. Shanty Wiryahaspati

http:mrsigit80.blogspot.com



A

0 comments via blog:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More