Kamis, 15 Desember 2011

Antara IQ dan EQ

Sebuah survei di AS pada 1918 mengenai IQ menemukan “paradoks” yang membahayakan: bagaimana skor IQ anak-anak makin tinggi, namun kecerdasan emosi mereka justru turun. Dan data hasil survei pada 1970 dan 1980 terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi dibanding generasi terdahulu. Mereka tumbuh dalam kesepian dan depresi, gampang marah, sulit diatur, cenderung cemas dan agresif.

Survei tersebut berlanjut dengan penelitian terhadap ratusan ribu pekerja dari level bawah hingga puncak. Dari survei ini ditemukan suatu inti kemampuan pribadi dan sosial yang sama, yang terbukti menjadi kunci utama keberhasilan pekerjaan dan hidup yaitu kecerdasan emosi.


Robert K Cooper PhD mengatakan: “Apa yang mereka tinggalkan di belakang dan acapkali mereka lupakan adalah aspek yang disebut Robert Frost sebagai aspek hati”. Hal ini diperkuat psikolog dari Yale, Robert Stenberg –ahli dalam bidang Succeessful Intelligence—yang mengatakan: “Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk”.

Robert Stenberg juga mengemukakan: “Salah satu sikap paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini adalah bahwa kita tidak boleh, dalam situasi apa pun, memercayai suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan diri sendiri, untuk tidak memedulikan intuisi serta mencari peneguhan dari luar diri kita bagi berbagai hal yang kita perbuat. Kita dikondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu daripada kita dan dapat memberitahu kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri”. (Untuk pendapat Robert S. ini, kelihatannya posting saya rada-rada nyambung nie. Silahkan membaca juga posting ini: Jangan Selalu Ikut Arus - Be An Extraordinary People).

So, dari tulisan cuplikan di atas, kita dapat berkaca. Apakah kita tetap akan menjadikan IQ sebagai “segalanya” bagi kehidupan kita? IQ memang penting bagi kita, namun EQ juga tidak kalah penting perannya dalam kehidupan kita. Mari menghargai semua potensi dari Ilahi ini, sebagai wujud dan tanda syukur kita kepada-Nya.

sumber : Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotient.



0 comments via blog:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More