Selasa, 09 Agustus 2011

Kesedihan dan Kegembiraan

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama. Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan (KAHLIL GIBRAN)

Kalau boleh memilih, ada banyak sekali manusia yang hanya mau kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Sayangnya, sebagaimana alam yang mengenal siklus, kehidupan manusia pun mengenal siklus. Kesedihan dan kebahagiaan adalah salah satu dari banyak siklus yang harus kita lalui.

Tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan. Diundang maupun tidak, ia akan senantiasa datang. Banyak kejadian bahkan terbukti, semakin ia dibenci dan ditakuti, semakin ia senang dan rajin berkunjung ke diri kita. Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan.

Bercermin dari goresan Kahlil Gibran di atas, kesedihan dan kegembiraan adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian.
Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia mana pun tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah. Ia seperti dua sayap dari seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya "burung" kehidupan.

Kahlil Gibran sampai pada pemahaman yang lebih dalam. Tanpa kesedihan, jiwa manapun tidak akan memiliki daya tampung yang besar terhadap kebahagiaan. Ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan.

Persoalannya adalah, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk berpelukan mesra dengan kesedihan? Nah, inilah sebuah kualitas pribadi yang dimiliki oleh sangat sedikit orang. Untuk menerima kebahagiaan, kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan. Akan tetapi, untuk berpelukan mesra dengan kesedihan, diperlukan kearifan dan kedewasaan yang mengagumkan
    

 tags:Erwin Fahmi      
 http://mrsigit80.blogspot.com

0 comments via blog:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More