Sabtu, 03 September 2011

Takut membuat kesalahan

Ketika saya diundang sebagai pembicara untuk seminar lain di kampus yang sama, saya berkesempatan bertanya langsung padanya. "Sebenarnya apa yang kamu takutkan?"
Ia menjawab, "Takut menghadapi orang banyak."
Saya tanya lagi, "Memangnya orang banyak akan berbuat apa sih? Kok sampai harus ditakuti?"
Ia sendiri bingung, sampai akhirnya ia sadar bahwa yang ditakutinya hanya satu, yaitu "takut melakukan kesalahan".
Sinta lupa kata-kata John X Maxwell yang berbunyi: "Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup ini adalah takut membuat kesalahan". Rasa 'takut membuat kesalahan' ini ternyata paling banyak menghambat kemajuan manusia.
Seorang pelukis yang akan mulai melukis tidak boleh merasa takut membuat kesalahan. Kalau ia takut membuat kesalahan, apa jadinya dengan hasil lukisannya? Jangan -jangan ia tidak akan pernah mulai melukis.
Ketika berhenti kerja karena tidak cocok dengan pemegang saham yang baru, Martin ingin memulai bisnis baru di bidang perlengkapan komputer. Tapi berbulan-bulan ia ragu-ragu karena takut gagal. Uang pesangon yang akan dijadikan modal sudah mulai berkurang karena terpakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ia pun semakin was-was. Memang ia takut gagal karena modalnya pas-pasan. Tapi semakin ia menunda bisnisnya, maka modalnya juga akan semakin berkurang. Martin harus bertindak cepat.
Untunglah kemudian ia sadar bahwa ketakutannya harus diatasi. Ia pun bertanya pada temannya yang sudah berhasil dibidang yang sama. Ia mempelajari segala seluk beluk bisnis itu lebih mendalam agar ia dapat mengurangi kemungkinan risiko gagal. Akhirnya ia mulai juga. Bulan ketiga ia sudah mendapat untung besar. Tahun kedua ia sudah memiliki dua toko komputer di Jakarta, bahkan tahun ini ia akan membuka dua toko lagi di Tangerang dan Bekasi.
Rosa menunda-nunda keputusan untuk mengambil waralaba sebuah restoran cepat saji dan membukanya di Bandung. Dari hasil analisanya, ia yakin bahwa pasti restoran itu laku karena lingkungan itu cukup ramai dan di situ belum ada restoran cepat saji yang enak. Tapi ia takut salah.
Empat bulan kemudian orang lain membuka waralaba restoran tersebut di lingkungan yang sama. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Tiap hari restoran itu dipenuhi pelanggan. 'life must go on!' Ketika Rosa menunda tindakannya karena takut salah, orang lain telah mengambil kesempatan itu. Karena Sinta takut melakukan kesalahan sehingga ia menolak menjadi pembawa acara, orang lainlah yang memperoleh kesempatan untuk belajar.
Isna harus menjadi pembicara di sebuah konferensi pers dalam rangka peluncuran produk baru. Dalam acara tersebut, Isna berusaha menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin. Rolan, rekan kerjanya, berkomentar di belakang. "Dia bicaranya salah. Kalau saya mau, saya bisa memojokkannya sekarang. Saya bisa mempermalukannya di depan orang banyak."
Sungguh sangat disayangkan. Bukannya mendukung atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat, Rolan justru berpikir negatif. Jelas sekali terlihat bahwa ia sebenarnya iri melihat Isna duduk di meja depan sedangkan ia sendiri tidak kelihatan.
Kalau ia berpikiran benar, tidak mungkin ia mengucapkan kata-kata yang merendahkan orang lain seperti itu. Untuk apa ia mempermalukan Isna? Supaya ia sendiri kelihatan hebat? Kelicikan hatinya sudah terlihat.
Sebaliknya Isna sangat positif. Ia tidak takut membuat kesalahan. Mungkin ia pernah malakukan kesalahan, tapi ia belajar agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Ia belajar dari kesalahan. Kini, apabila dibandingkan, Isna jauh lebih unggul untuk tampil di depan umum dibandingkan Rolan yang berpikiran negatif. Mungkin Rolan dalam hati berpikir bahwa ia lebih baik daripada Isna, tapi yang menentukan adalah orang lain bukan? Pendengarlah yang lebih bisa merasakan dan melihat perbedaan yang menyolok diantara keduanya. Fakta membuktikan. Rosa kemudian belajar dari pengalaman pahitnya untuk tidak takut lagi melakukan kesalahan. Ia segera mencari lokasi lain yang bagus dan membuka waralaba restoran tersebut yang ternyata memang laku keras, meskipun tidak sebagus pilihan pertamanya dulu. Tapi kini ia tidak membiarkan rasa 'takut membuat kesalahan' itu menghambat langkahnya. Ia meminimalisasi resiko dengan persiapan yang matang, lalu segera bertindak.
Sinta pun kemudian sadar bahwa ketakutan itu hanya ada dikepalanya. Hanya ada dalam pikirannya. Bukan sesuatu yang nyata. Ia tinggal memilih untuk mengatasinya atau menyerah pada pikiran negatif tersebut. Ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan mengajukan diri menjadi pembawa acara seminar tahun depan. Ia tidak mau lagi membiarkan kesempatan lewat tanpa dimanfaatkan. Karena kalau ia tidak mau menggapai kesempatan, orang lain yang akan meraihnya. Tidak perlu takut membuat kesalahan! 'Go for it!'  



http://mrsigit80.blogspot.com/ 

0 comments via blog:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More